Dalam beberapa pekan ini indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat volatile. Kenaikan yang puluhan poin beberapa hari kemudian akan diikuti pula dengan penurunan yang cukup tajam.
Fluktuasi pasar tersebut tidak hanya terjadi di pasar lokal tapi juga di pasar regional dan global. Usut punya usut ternyata penurunan itu lantaran harga minyak yang turun, penurunan harga minyak ini mau tidak mau mengkoreksi harga sejumlah komoditas yang selama ini menjad subtitusi minyak. Jadi hal itulah antara lain yang kini terus memicu fluktuasi harga saham dalam beberapa pekan ini.
Menghadapi kondisi pasar yang volatile ini, investor dan segenap pelaku pasar modal tampaknya punya upaya sendiri. Motto mereka tampaknya juga sama, investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang. Sebagai wahana investasi yang sudah lama dikenal masyarakat dunia, kinerja pasar dan gonjang-ganjing harga saham pun tampaknya sudah mereka ukur.
Akibatnya jangan kaget kalau mereka memiliki berbagai "manuver" (baca strategi) dalam mengelola investasinya di pasar saham ini. Penerapan berbagai strategi transaksi saham sifatnya sangat situasional, tergantung pada kinerja pasar atau harga saham yang akan dibeli.
Bahkan fluktuasi saham itu bisa datang tidak diduga-duga sebelumnya. Nah kalau itu yang dihadapi sama sekali tidak diduga sebelumnya maka pelaku pasar bersiap menerapkan strategi kontigensi.
Kontigensi sebagaimana namanya merupakan suatu keadaan atau kondisi yang terjadi tanpa diduga-duga. Kendati kondisi tak terduga, biasanya untuk menghadapi situasi tersebut tiap orang punya persiapan dan menyiapkan langkah alternatif.
Ambil contoh, ketika harga minyak tanah naik dan tak sanggup lagi untuk dibeli, maka pengguna minyak tanah akan mencari alternatif bahan bakar misalnya kayu bakar.
Dengan menggunakan ranting-ranting dan batang pohon tersebut maka orang masih bisa memasak. Berbagai persiapan untuk menanggulangi suatu keadaan yang tak diprediksi sebelumnya itu bisa kita katakan sebagai sebuah tindakan kontigensi.
Di pasar modal pun tindakan contingency ini juga berlaku. Untuk itu guna mengatasinya perlu dilakukan perencanaan atau yang biasa disebut dengan countigency plan. Secara sederhana sebuah kondisi kontigensi di pasar modal bisa ditengok dengan fluktuasi pasar, fluktuasi harga saham yang menjadi pangkal penyebab dari pergerakan pasar yang volatile itu. Penyebabnya bisa faktor apa saja, politik, keamanan, makro ekonomi, mikro ekonomi, maupun sebab-sebab lain yang secara psikologis bisa membuat harga saham atau pasar mengalami kenaikan atau penurunan (fluktuasi).
Pilihan Kontigensi
Untuk menerapkan tindakan kontigensi ini setidaknya investor memiliki dua pilihan strategi yang bisa diterapkan, yakni average down dan follower strategy. Ketika harga saham mengalami penurunan, dan para investor yakin bahwa saham tersebut akan terus mengalami penurunan maka investor bisa menerapkan transaksi strategi average down.
Sebab, dalam strategi average down investor melakukan pembelian dengan rata-rata menurun. Ia akan terus melakukan pembelian kendati harga saham mengalami penurunan. Contohnya harga saham hari ini Rp2.000, lalu esok hari harga saham turun menjadi Rp1.900, dan esok lusa turun lagi menjadi Rp1.800.
Kendati terus turun investor terus melakukan pembelian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan investor terus melakukan pembelian, misalnya terkait dengan upaya investor tersebut mempertahankan nilai dari portofolionya. Tanggal 7 Agustus lalu, nilai portofolio investor atas saham A sebesar Rp2 juta, membeli saham sebanyak 1.000 lembar harga Rp2.000, hari berikutnya nilai A yang ada diportofolio investor turun menjadi tinggal 1,9 juta.
Karenanya agar nilai portofolio tetap maka investor melakukan pembelian kembali agar nilai portofolio tetap berada pada posisi Rp2 juta. Begitu seterusnya, sehingga apabila harga saham kembali ke posisi normal maka investor akan mengantongi keuntungan. Pembelian rata-rata ini juga bisa dilakukan investor saat saham mengalami kenaikan. Begitu saham mengalami kenaikan maka investor akan terus melakukan pembelian, hingga targetnya atas saham tersebut sesuai dengan tujuan, minimal sampai diketahui level resistensinya (sebuah level harga di mana pada saat itu sudah terlihat bahwa pihak yang akan melakukan penjualan lebih banyak ketimbang yang akan melakukan pembelian).
Tidak semua investor berhasil melakukan strategi average down maupun average up. Ilustrasi tersebut menggambarkan investor yang berhasil. Faktor apa yang menentukan keberhasilan? Ketepatan waktu melakukan pembelian ulang pada kondisi mendekati support level menjadikan dia sukses. Penurunan harga suatu saham akan menuju ke arah support level (level topang).
Dinamakan support level, karena pada level itu akan cenderung mendapat topangan aksi beli yang besar. Pada support level akan terjadi dua kemungkinan. Pertama, yaitu support level akan tembus dan itu akan membentuk support level yang lebih rendah. Kemungkinan yang lain sesudah menyentuh support level muncul persepsi baru bahwa harga saham tersebut relatif murah, sehingga pembelian akan meningkat dan kemudian mendorong harganya naik kembali. Kondisi support level dapat diperhitungkan, tetapi tidak dapat dipastikan.
Selain average down ini, dalam melakukan strategy contigency juga bisa diterapkan dengan menerapkan pola transaksi mengekor (follower) biasanya akan dilakukan investor dengan melihat kondisi pasar terlebih dulu. Kalau pasar tengah mengalami kenaikan maka yang perlu dimonitor adalah saham-saham yang membawa pasar ke arah kenaikan. Biasanya pasar akan mengalami kenaikan apabila saham-saham blue chips mulai aktif ditransaksikan. Dalam menerapkan strategi follower ini, investor akan dihadapkan pada biaya yang akan dikeluarkan sehubungan dengan transaksi secara follower ini.
Misalnya ketika saham yang akan dibeli terus mengalami kenaikan dengan demikian dana yang dibutuhkan juga menjadi relative lebih besar. Jika investor yakin saham akan terus mengalami kenaikan biasanya tidak sedikit yang investor kemudian melakukan cut loss (menjual rugi) atas saham lain dan uang hasil penjualan akan dibelikan pada saham yang tengah ramai ditransaksikan itu. Untuk itu agar berhasil dalam menerapkan strategi mengikuti kinerja pasar (follower) yang perlu diperhatikan adalah aspek sensitivitas saham tersebut terhadap pasar.
Karenanya untuk bisa menerapkan pola transaksi mengekor ini investor perlu berpedoman size dari saham emiten itu. Kemudian perlu dipastikan bahwa saham emiten itu merupakan market leader dalam industrinya. Kalau saham yang diburu merupakan market leader maka akan sangat mungkin transaksi akan diikuti oleh investor lain.
Strategi ini sangat tepat dilakukan bilamana keadaan pasar sedang bullish, sebab pada pasar bullish, investor yang mengekor akan dapat ikut menikmati kenaikan harga saham dari aksi yang dilakukan pemimpin pasar. Namun demikian dalam keadaan bearish, strategi itu sangat riskan untuk dilakukan. Pelaku pasar biasanya akan menerapkan strategi follower bila sama sekali pasar tidak memiliki insentif. Bila kondisi sama sekali tidak ada informasi yang bisa digunakan dalam melakukan transaksi maka investor akan menerapkan pola transaksi mengekor. (tim bei).
(//rhs)