JAKARTA - Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan empat alasan mengenai penurunan angka kemiskinan dan pengangguran terbuka.
Berkaitan dengan angka kemiskinan dan pengguran terbuka, Sri Mulyani menjelaskannya dalam sidang paripurna DPR mengenai jawaban pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi DPR tentang nota keuangan RAPBN 2009, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/8/2008).
Alasan pertama, inflasi umum relatif stabil selama periode Maret 2007-Maret 2008, yaitu sebesar 8,17 persen (year on year/YoY). Kedua, komodoti yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras, juga mengalami penurunan harga. Selama periode itu, harga beras turun 3,01 persen yaitu dari Rp6.414 per kilogram (kg) pada Maret 2007 menjadi Rp6.221 per kg pada Maret 2008.
"Penurunan ini berbanding tebalik dengan inflasi YoY ada periode yang sama," imbuhnya.
Ketiga, sekira 70 persen daerah miskin di pedesaan bekerja di sektor pertanian. Kondisi pekerjaan di sektor itu pada Maret 2008 relatif baik. Secara nasional rata-rata upah nominal harian buruh tani selama Maret 2007-Maret 2008 meningkat 9,88 persen.
Pada periode yang sama rata-rata upah harian buruh juga naik, yaitu dari Rp2.553 pada Maret 2007 menjadi Rp2.576 pada Maret 2008. "Artinya daya beli tani sedikit membaik," jelas Menkeu.
Keempat, selama Maret 2007 hingga Februari 2008, jumlah pengangguran berkurang. Tingkat pengguran terbuka pada 2007 sebesar 9,75 persen (10,55 juta orang) tetapi turun menjadi 8,46 persen (9,43 juta orang) pada Februari 2008.
"Turunnya angka pengangguran ini karena terbukanya lapangan pekerjaan di sektor informal secara luas," ujarnya.
Menkeu mengatakan, tiga alasan pertama menjadi faktor yang menjelaskan mengapa antara Maret 2007-Maret 2008 jumlah penududuk miskin turun 2,21 juta orang atau menjadi 15,42 persen dari total penduduk Indonesia.
(Muhammad Ma'ruf/Sindo/rhs)