JAKARTA - Dari sekitar Rp18 triliun underlying asset yang digunakan untuk jaminan penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), pemerintah baru memakai sekitar Rp4 triliun atau 22,2 persen, untuk penerbitan sukuk perdana tahun ini.
"Waktu itu kami menyediakan undelying asset sebesar Rp18 triliun dan baru dipakai untuk saat ini sekitar Rp4 triliun," ucap Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, seusai membuka acara peluncuran sukuk negara, di Hotel Mulia Jakarta, Selasa (26/8/2008).
Menurutnya, dari total underlying asset yang tersisa, belum tentu semuanya akan terpakai pada saat penerbitan sukuk berikutnya, termasuk penerbitan sukuk internasional.
Pasalnya, penggunaan underlying asset tersebut akan didasarkan kepada kebutuhan anggaran dan suasana pasar. "Jadi tidak ada kira-kira. Nanti kita lihat saja," ujarnya.
Terkait dengan peluncuran perdana sukuk negara ini, Menkeu melihat bahwa ke depannya, prospek sukuk akan cukup menjanjikan. Selain itu, potensi pasar dengan diversifikasi beragam, memberikan pilihan kepada pemerintah dalam melakukan penerbitan Surat Berharga Negara.
"Karena pemerintah bisa memilih instrumen yang memiliki risiko dan tingkat beban yang paling kecil," ucapnya.
(rhs)