foto: Istimewa
JAKARTA - Pertemuan bursa efek se-Asean di Bali pada 23-25 Agustus 2008 belum menyepakati penyatuan bursa efek enam negara.
Pertemuan yang dihadiri para chief executive officer (CEO) dari CEO Bursa Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam, dan Singapura itu masih membahas kesiapan masing-masing bursa sebelum dibentuknya bursa Asean.
"Sampai pada pertemuan keenam kemarin ini belum ada kesepakatan soal Bursa Asean. Pada prinsipnya, ide itu cukup bagus asalkan tidak merugikan pasar domestik. Kalau merugikan kami akan mundur," kata Dirut BEI Erry Firmansyah usai RUPSLB di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (27/8/2008).
Erry menjelaskan, pembentukan Bursa Asean yang dapat menyatukan bursa keenam negara tersebut masih membutuhkan waktu 5-10 tahun. Di samping itu, beberapa hal yang kursial yang dirasakan masih menjadi hambatan adalah perbedaan mata uang, landasan hukum, dan infrastruktur.
"Jadi, penyatuan bursa se-Asean yang berarti hanya ada satu bursa di Asia Tenggara tidak mudah, sehingga sulit direalisasikan dalam waktu dekat," tegas dia.
Menurut Erry, hal yang paling memungkinkan adalah menjalin kerja sama bilateral antara kedua negara seperti Singapura dan Australia atau Singapura dan Malaysia.
Namun, kerja sama bilateral tidak mudah direalisasikan. "Saat ini, kerja sama antara kedua negara itu pun tidak jalan. Contohnya orang Singapura banyak yang belanja saham di Australia. Tapi, tidak sebaliknya, sehingga tidak jalan," ujar Erry.
Erry mengkhawatirkan, kondisi tersebut juga terjadi di Indonesia apabila bursa Asean atau bilateral di bentuk. Sebab, pelaku pasar dan broker di Tanah Air belum siap bersaing dengan asing. Sehingga dapat menghambat pertumbuhan investor lokal.
(ade)