JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan cadangan listrik (reserve margin) dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali pada 2009 hanya 14 persen.
Kebutuhan listrik saat beban puncak pada 2009 diperkirakan mencapai 18.077 megawatt (MW), sementara daya mampu hanya sebesar 20.666 MW. Kondisi ini lebih memprihatinkan dibandingkan tahun ini,di mana daya mampu sebesar 20.556 MW dan beban puncak 16.995 MW, atau dengan reserve margin 21 persen.
"Tipisnya cadangan itu memengaruhi keandalan sistem (Jawa-Bali)," ujar Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta Rabu (27/8/2008).
Menurut dia, tipisnya cadangan listrik tersebut menimbulkan kondisi yang rawan. Jika suatu saat terjadi kelebihan beban puncak atau jika secara tiba-tiba pembangkit mengalami gangguan, pemadaman tidak dapat terhindarkan.
Bahkan, PLN bisa saja melakukan pemadaman tanpa pemberitahuan terlebih dulu guna mencegah agar tidak terjadi pemadaman total (black out) pada sistem.
Fahmi memaparkan, pertumbuhan permintaan listrik sejak 2003 hingga saat ini mencapai 3,5 persen per tahun dengan peningkatan beban puncak 4,8 persen per tahun.
Pada 2003, daya mampu pembangkit listrik pada sistem Jawa-Bali tercatat sebesar 17.485 MW dengan beban puncak 13.682 MW, sehingga reserve margin yang ada sebesar 28 persen. Cadangan pada 2004 pun masih sama besar, sekitar 28 persen di mana daya mampu 18.366 MW dan beban puncak 14.821 MW.
Namun pada 2005, reserve margin turun menjadi 24 persen. Kemudian pada 2006, kembali terjadi kenaikan reserve margin menjadi 34 persen. Namun setelah 2006, reserve margin pada sistem Jawa-Bali terus turun menjadi 25 persen, dan bahkan tahun ini reserve margin hanya 21 persen, di mana daya mampu sebesar 20.556 MW dan beban puncak 16.995 MW.
"Pasokan listrik di sistem Jawa-Bali akan aman akhir 2009, setelah mendapat pasokan dari proyek PLTU 10 ribu MW, dengan masuknya pasokan sebesar 1.200 MW dari PLTU Labuan, Indramayu, dan Rembang," tutur dia.
Pada kesempatan yang sama, Direktur PLN Jawa,Madura, dan Bali Murtaqi Syamsuddin menyatakan pihaknya terus berusaha agar pelanggan tidak mengalami kekurangan pasokan dalam kondisi tersebut.
PLN, kata dia,akan mengendalikan beban pemakaian di sistem Jawa-Bali hingga mendapatkan pasokan baru. Namun, tegas dia, dengan kondisi seperti ini PLN tetap tidak dapat bertindak maksimal.
Sebab, tarif dasar listrik tidak naik sejak kuartal III/2003. Selain itu, akibat krisis ekonomi yang terjadi, PLN pun telah kehilangan momentum investasi untuk ekspansi fasilitas ketenagalistrikan sehingga kemampuan PLN saat ini untuk mengakomodasi pertumbuhan konsumsi energi listrik berkurang drastis.
(Ferial Thalib /Sindo/rhs)