JAKARTA - Pemerintah membantah bahwa pertumbuhan industri, terutama manufaktur mengalami penurunan.
Hal ini menyebabkan target pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan menjadi 14 persen dan pengangguran menjadi tujuh persen pada tahun depan menjadi kurang realistis.
"Kalau pertumbuhan sektor industri tetap naik. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah pertumbuhan itu memadai atau tidak," ucap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, saat ditemui di kantornya, Gedung Depkeu, Jalan Wahidin, Jakarta, Jumat (29/8/2008).
Seperti diberitakan sebelumnya, Kamis 28 Agustus kemarin, LIPI mengumumkan bahwa target kemiskinan dan pengangguran yang dicanangkan pemerintah dinilai terlalu ambisius.
Hal ini dikarenakan, LIPI melihat pertumbuhan ekonomi yang masih relatif tinggi ternyata tertopang oleh sektor-sektor nontradeable, seperti listrik, gas, air minum, transportasi dan lain-lain. Di mana, sektor-sektor tersebut minim menyerap tenaga kerja, sehingga angka pengangguran dan kemiskinan sulit berkurang.
Diakui Anggito, jika dibandingkan beberapa tahun lalu, saat pertumbuhannya mencapai double digit, industri manufaktur Indonesia saat ini belum pernah mencapai prestasi itu lagi.
Kendati demikian, itu bukan berarti juga terjadi penurunan. "Padahal dia ditujukan untuk menciptakan lapagan kerja dan menciptakan nilai tambah. Tapi kalau mengecil ya tidak, karena pertumbuhannya naik bahkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya," ucapnya.
(ade)