Sektor Riil


Dirgo Purbo: Ada Konspirasi Terselubung di Kontrak Tangguh

Sabtu, 30 Agustus 2008 - 13:52 wib
text TEXT SIZE :  
Mochammad Wahyudi - Okezone

JAKARTA - Kebijakan rezim pemerintah terdahulu yang menetapkan harga ekspor LNG Tangguh ke China dengan tidak mempertimbangkan fluktuasi harga minyak selama 25 tahun dinilai tidak rasional.

Karena, itu akan berpotensi menyebabkan kerugdian negara yang sangat besar. "Capping harga ekspor LNG dengan flat selama 25 tahun itu, menurut saya menjadi tanda tanya. Karena pada intinya seharusnya harga itu bisa menghasilkan devisa sebanyak-banyaknya bagi Indonesi," ucap pengamat perminyakan Dirgo Purbo, seusai acara Diskusi Polemik: Carut Marut Pengelolaan Elpiji & LNG, di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (30/8/2008).

Oleh karena itu, Dirgo melihat ada unsur konspirasi terselubung dalam pembentukan harga LNG tersebut. Pasalnya, dia melihat tidak satupun alasan rasional yang bisa menjadi pembenaran pembentukan harga tersebut. "Saya menduga ini semata-mata ada konspirasi antara receiving terminal di Fujdian dengan produsen LNG di Tangguh," ucapnya.

Untuk itu, dia berharap ke depannya ada perubahan kebijakan mendasar, tidak hanya pada kontrak LNG Tangguh. Melainkan juga kontrak-kontrak energi lainnya. Sehingga kemungkinan terjadinya konspirasi itu bisa diminimalisir.

"Sebaiknya pemerintahan sekarang atau siapapun yang nantinya memerintah mereview kontrak setiap dua tahun sekali, itu kuncinya. Karena kalau empat tahun itu kelamaan," tegasnya.

Selain itu, dia menekankan agar tidak terjadi lagi masalah-masalah yang berkaitan dengan energi nasional. Maka, sebaiknya untuk masa-masa mendatang, masyarakat Indonesia harus memilih presiden yang paham akan geopolitik. Karena menurut Bung Karno, ketahanan nasional itu adalah geopolitik.

"Siapapun bawahannya yang salah, pasti yang akan disalahkan adalah presidennya. Makanya untuk ke depannya, masyarakat mesti pilih presiden yang memahami geopolitik," ucap Dirgo yang juga penulis buku _Geopolitik perminyakan_ ini.

Sekadar diketahui, Kontrak LNG Tangguh yang ditandatangani tahun 2002 menyebutkan nilainya sebesar USD3,3 per mmbtu. Sementara saat ini harga LNG di pasar internasional berada pada kisaran USD20 per mmbtu

Dalam perhitungan pemerintah, potensi kerugian negara dari kontrak penjualan gas alam cair Tangguh mencapai sekira Rp750 triliun atau USD75 miliar. Potensi itu didapat dari penghitungan rata-rata kerugian USD3 miliar per tahun selama hampir 25 tahun. (rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4