ist
PAGI itu saya dan istri bangun kesiangan, sehingga kami menjadi penumpang terakhir yang melakukan check-in di perusahaan penerbangan Garuda di Melbourne.
Karena itu saya tidak punya bayangan seberapa padat pesawat yang akan saya naiki. Sebagai penumpang terakhir, saya melewati aerobridge yang sebenarnya untuk kelas bisnis, meskipun tiket saya kelas ekonomi.
Yang membuat saya tertegun adalah di kelas bisnis tersebut pesawat Garuda kita penuh dengan penumpang, dan sebagian besar penumpang asing. Begitu saya menyusuri lorong menuju kelas ekonomi, saya semakin heran karena kelas ini pun dipadati penumpang.
Rasanya penerbangan pagi itu, tanggal 24 Agustus 2008, tingkat kepadatan penumpang GA 719 hampir mencapai 100%, suatu prestasi tersendiri. Saya terbiasa berada di tengah-tengah warga Indonesia jika saya mengendarai pesawat Garuda. Tetapi dalam penerbangan ini saya dan istri sungguh menjadi minoritas.
Sebagian terbesar penumpang adalah warga negara Australia yang tampaknya hendak mengisi waktu mereka berlibur ke Bali. Pesawat Airbus A 330-300 dalam konfigurasi Garuda memuat 293 penumpang bisnis dan ekonomi.
Jika 90% dari penumpang adalah warga negara Australia, maka dalam satu penerbangan itu saja Garuda sudah menyumbangkan wisatawan sebanyak sekitar 250 orang, suatu jumlah yang mampu mengisi hotel kelas sedang.
Rasanya sangat tebal di pikiran kita bahwa perusahaan penerbangan BUMN kita, yaitu Garuda, adalah perusahaan penerbangan yang hanya laku di pasar domestik saja. Begitu perusahaan tersebut melangkah ke luar negeri, otomatis pesawatnya akan banyak kosong sehingga tidak menghasilkan keuntungan yang diharapkan, bahkan mengalami kerugian.
Karena itu pemandangan yang saya alami sendiri tersebut merupakan suatu bukti konkret dari upaya perusahaan penerbangan kita dalam menjaring pasar yang lebih luas dari sekadar pasar domestik. Perbandingan ini akan menjadi lebih lengkap kalau saya bisa menyaksikan penerbangan Garuda di tujuan yang lain, baik ke Asia Timur maupun ke Timur Tengah.
Kualitas Pelayanan dan "Generousity"
Dalam penerbangan tersebut saya mengamati bahwa para awak kabin umumnya ramah dan memiliki self confidence yang tinggi. Barangkali perasaan semacam ini mereka miliki karena mereka sadar bahwa pelayanan mereka untuk memuaskan para penumpang cukup tersedia. Penerbangan dari Melbourne ke Denpasar ditempuh dalam waktu 5 jam dan 46 menit.
Dalam jangka waktu yang relatif pendek itu para penumpang disuguhi makanan sampai tiga kali. Yang pertama adalah minuman dengan snack. Tidak lama kemudian penumpang dihidangi makan siang. Satu jam sebelum penerbangan berakhir, para awak kabin menyajikan minuman dengan es krim.
Suatu pelayanan yang bisa dikatakan sangat memadai untuk jarak tempuh selama itu. Akan tetapi, yang menarik perhatian adalah bebasnya para penumpang meminta minuman ke awak kabin. Mereka bisa meminta satu kaleng penuh minuman dingin seperti Coca-Cola atau bahkan sekaleng bir.
Saya menandai, jika permintaan cukup banyak, awak kabin kemudian menyiapkan minuman dan diedarkan kepada semua penumpang. Selebihnya, para penumpang meminta minuman ke awak kabin baik dengan memencet tombol maupun datang sendiri ke tempat minuman tersebut.
Saya melihat banyak penumpang yang meminta bir dan tidak hanya sekali saja. Ini berarti ada sikap "generous" yang dikembangkan oleh perusahaan penerbangan kita dan tidak membatasi jumlah permintaan dari pelanggannya. Dalam pembicaraan saya dengan awak kabin terungkap bahwa Garuda memang menyiapkan minuman dalam jumlah yang sangat memadai.
Untuk Bir Bintang saja, jumlah yang mereka bawa sangat mungkin untuk memenuhi permintaan seluruh penumpang. Karena banyak yang tidak minum bir, muncul kesempatan bagi penumpang untuk meminta minuman tersebut lebih dari satu kaleng.
Awak kabin akan membatasi pemberian bir agar para penumpang tidak mabuk, bukan karena kebijakan untuk menghemat. Pada saat saya berjalan-jalan di koridor dek belakang, terasa betul suasana liburan sudah terbangun di pesawat tersebut.
Mereka bergerombol dan bercerita secara meriah, sedangkan di tangan mereka ada sekaleng Bir Bintang. Suasana ini sungguh menarik dalam membangun suasana yang lebih intens pada saat mereka nantinya berada di Bali, baik di Kuta, Ubud, maupun tempat-tempat lain.
Suasana semacam ini mampu dibangun oleh awak kabin Garuda dengan baik, sehingga pada akhirnya terbangun suatu "komunitas" di pesawat itu. Rasanya penciptaan suasana semacam ini sangat efektif dalam pemasaran perusahaan penerbangan ini dari mulut ke mulut. Para penumpang yang terpuaskan pasti akan bercerita betapa penerbangan mereka dengan Garuda merupakan suatu pengalaman yang indah.
Membangun Garuda yang Semakin Kuat
Merupakan suatu hal yang menarik untuk mengamati perkembangan usaha perusahaan penerbangan pelat merah ini. Dari sebuah perusahaan penerbangan yang senantiasa dirundung rugi dan dikejar "debt collector", Garuda mulai menunjukkan kebangkitan yang menarik.
Laporan keuangan perusahaan menghasilkan laba yang semakin lama semakin besar. Perubahan itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa tahun saja. Bahkan pada saat perusahaan penerbangan global lain diimpit kerugian maupun penurunan keuntungan karena naiknya harga bahan bakar, Garuda justru menunjukkan daya tahannya. Satu hal yang juga saya lihat menarik adalah strategi penetapan rute. Pontianak adalah satu kasus yang menarik.
Garuda pernah menerbangi kota tersebut beberapa tahun yang lalu. Namun kemudian Garuda tampaknya mengalami persaingan tajam oleh Batavia Air dan perusahaan penerbangan swasta lain, sehingga mereka akhirnya menutup rute ini. Namun, pada 2008 terjadi perkembangan yang menarik.
Awalnya mereka membuka kembali rute ke Pontianak dengan satu penerbangan. Beberapa bulan kemudian mereka tambah menjadi dua kali sehari. Terakhir mereka tambah lagi sehingga saat ini menjadi tiga penerbangan dalam satu hari. Itu semua terjadi dalam hitungan tahun yang sama.
Dalam pengalaman kami terbang ke kota tersebut, jumlah penumpang Garuda cukup padat, meski harganya sedikit di atas para pesaingnya. Tampaknya Garuda mampu memunculkan diri sebagai premium airline, sehingga dengan diferensiasi harga seperti itu jumlah penumpang tidak berkurang.
Saya merasa bangga terbang dengan Garuda dari Melbourne ke Denpasar. Rasanya sudah waktunya perusahaan ini menyiapkan diri untuk ekspansi lebih cepat. Penerbangan ke Pontianak yang cukup laris, misalnya, dewasa ini hanya dilayani 3 kali seminggu.
Jika armada Garuda dapat diperkuat, maka kemampuan perusahaan untuk berkembang juga akan semakin besar. Kementerian BUMN rasanya sudah waktunya mendorong perusahaan ini lebih jauh sehingga sungguh menjadi kekuatan regional yang dihormati.
Cyrillus Harinowo
Rektor ABFII Perbanas
(sindo//jri)