JAKARTA - Rendahnya nilai ekspor Juli 2008 dibanding impor, yang menyebabkan Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) menjadi defisit, harus dikelola secara hati-hati.
"Artinya, potensi ekspor yang masih sangat banyak harus terus digenjot," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga Pelaksana Tugas Menko Perekonomian, di Gedung Departemen Keuangan, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (2/9/2009).
Sedangkan kalau impor yang tujuannya adalah untuk produksi, lanjutnya, memang tidak bisa dicegah. Sebab, korelasi impor barang modal dan bahan baku akan berimbas positif terhadap kinerja perekonomian secara makro.
"Untuk menjaga NPI secara keseluruhan, kompensasinya adalah dari sisi Neraca Transaksi Modal. Dalam hal ini, tentunya berhubungan dengan kita dalam menciptakan lingkungan ekonomi yang baik," jelas Sri Mulyani.
Sehingga modal masuk baik dalam bentuk portofolio maupun total investasi asing langsung (FDI-Foreign Direct Investment) tetap bisa bisa berjalan.
Saat pertumbuhan investasi yang berasal dari arus modal luar negeri secara keseluruhan, sebetulnya dinilai aman. Tapi, komposisinya dimungkinkan berubah karena konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yaitu di atas enam persen.
(rhs)