Pada edisi minggu lalu, saya sudah mengulas tentang urgensi perencanaan kehidupan di hari tua sejak dini.
Empat hal yang berkaitan dengan perencanaan tersebut sudah saya sampaikan kepada Anda, yakni (1) Identifikasi tujuan di hari tua; (2) Pilihan kualitas gaya hidup di hari tua; (3) Mengukur tingkat penghasilan saat ini; (4) Memperhatikan laju inflasi.
Seperti yang saya janjikan, pada edisi kali ini, saya akan memfokuskan pembahasan tentang perkiraan sumber dana di hari tua serta kiat untuk mendanai kekurangan dana dengan mengidentifikasi berbagai sumber dana yang ada.
Siapkan Sumber Dana Sejak Dini
Untuk mempermudah penjelasan tentang metodologi perhitungan penghasilan di hari tua, saya akan menyajikan satu ilustrasi menarik bagi Anda. Pak Barata Wahyu (berusia 30-an tahun), misalnya, dia memiliki dua orang anak yang masih remaja. Suami dan istri dalam keluarga ini cukup berhasil dalam karier masing-masing dan mereka menjalankan pola hidup sederhana.
Penghasilan mereka berdua kira-kira Rp10 juta per bulan sebelum dipotong pajak.Mereka sepakat berhenti bekerja pada kisaran usia 60 tahun (30 tahun lagi). Selanjutnya, Pak Barata perlu membuat perkiraan tentang kebutuhan di hari tua, dan langkah awalnya ialah memperkirakan pengeluaran rumah tangga saat mereka memasuki masa pensiun.
Mereka ingin memiliki standar hidup yang sederhana, nyaman, tapi ada kepastian untuk membiayai pengeluaran mereka di saat pensiun. Berdasarkan catatan neraca penghasilan dan pengeluaran rumah tangga bulanan, pengeluaran rumah tangga mereka sebesar Rp7 juta per bulan.
Pada saat memasuki masa pensiun, kewajiban mereka untuk membayar kredit pemilikan rumah (KPR)sudah selesai dan kedua anak tercinta pun tidak lagi tinggal bersama mereka. Karena beberapa pos pengeluaran berkurang, Pak Barata memperkirakan bahwa mereka hanya membutuhkan 80 persen dari pengeluaran keuangan saat ini untuk bisa memiliki standar hidup yang memadai.
Jadi, pada masa pensiun nantinya,Pak Barata tahu bahwa kebutuhan hidup mereka sebesar Rp5,6 juta per bulan atau Rp67,2 juta per tahun. Apa langkah selanjutnya? Mereka harus mencari sumber dana untuk kelangsungan hidup di hari tua ketika mereka sudah tidak berpenghasilan lagi.
Saat ini, mereka sudah mempunyai dua sumber penghasilan untuk peruntukan tersebut, yakni produk Jamsostek dan Program Asuransi Jiwa Tabungan yang sudah mereka miliki sejak beberapa tahun lalu.Secara kalkulatif,total manfaat premi dari kedua sumber ini nantinya bisa memberikan penghasilan sebesar Rp50 juta per tahun.
Beruntung sekali, mereka sudah memiliki produk Asuransi Jiwa Tabungan sehingga ada kepastian sumber penghasilan di hari tua. Berdasarkan perkiraan besaran kebutuhan keluarga Pak Barata di masa tua (Rp67,2 juta per tahun), berarti ada kekurangan dana sebesar Rp17,2 juta per tahun untuk bisa mencapai standar kehidupan yang mereka inginkan.
Selain itu, akibat laju inflasi, kekurangan tersebut akan menjadi lebih besar. Jika pengeluaran mereka terkena dampak inflasi sebesar tujuh persen per tahun, misalnya, berarti total kekurangan dana akan menggelembung menjadi Rp130.931.560 dalam waktu 30 tahun (besaran dihitung dengan menggunakan Tabel Nilai yang Akan Datang).
Karena itu, Pak Barata perlu menghitung besarnya sumber dana di hari tua agar mereka bisa mendanai proyeksi kekurangan tersebut. Untuk mengetahui berapa besar uang yang perlu mereka kumpulkan, mereka terlebih dahulu harus memperkirakan tingkat hasil investasi yang bisa mereka peroleh pada masa pensiun nantinya.
Angka ini menunjukkan berapa besarnya dana yang mereka butuhkan pada masa pensiun agar mereka bisa memenuhi kekurangan jumlah dana yang sudah diprediksi sebelumnya. Bila hasil investasi sebesar delapan persen per tahun misalnya,berarti keluarga Pak Barata membutuhkan dana sebesar Rp1.636.644.500 ketika mereka pensiun.
Angka ini diperoleh dari hasil pembagian antara besarnya kekurangan dana (Rp130.931.560) dengan tingkat penghasilan investasi (8 persen). Selama modal pendanaan mereka (Rp1.636.644.500) tidak disentuh, akumulasi jumlah ini akan memberikan penghasilan tahunan seperti yang mereka butuhkan (Rp67,2 juta per tahun).
Jadi,Keluarga Pak Barata bisa mengetahui bahwa mereka membutuhkan akumulasi dana sebesar Rp1.636.644.500 pada masa pensiun. Dari manakah kebutuhan dana tersebut bisa diperoleh? Langkah selanjutnya, Pak Barata perlu mengetahui besarnya dana yang harus mereka sisihkan setiap bulan agar bisa mencapai target akumulasi dana.
Misalnya, tingkat hasil investasi dana yang mereka miliki sebesar 12 persen per tahun dan lamanya periode investasi 30 tahun.Berdasarkan perhitungan Faktor Bunga Majemuk terhadap Tabel Nilai yang Akan Datang dari Faktor Anuitas, diperoleh kisaran Faktor Hasil Investasi sebesar 241.333.
Dengan demikian, besarnya dana yang perlu mereka sisihkan ialah Rp6.781.685 per tahun (atau Rp565.150 per bulan).Besaran ini diperoleh dari hasil pembagian antara akumulasi dana yang mereka butuhkan pada saat pensiun (Rp1.636.644.500) dengan besaran Faktor Hasil Investasi (241.333).
Artinya, mereka harus menyisihkan dana Rp6.781.685 per tahun dan tabungan ini harus menghasilkan bunga 12 persen per tahun sehingga target akumulasi dana di hari tua bisa terealisasi! Berdasarkan ilustrasi tersebut, Anda bisa melihat betapa pentingnya perencanaan kehidupan di hari tua! Untuk mengakomodasi besarnya akumulasi dana yang Anda butuhkan nantinya,
Anda perlu memperlengkapi diri dengan produk Asuransi Jiwa tabungan sejak dini. Tentukan pula,pada usia berapakah Anda akan berhenti bekerja dan mulai menikmati masa pensiun dengan jaminan penghasilan yang pasti, sepasti standar kehidupan yang Anda inginkan nantinya.
Dalam rangka itu,libatkan agen asuransi jiwa yang profesional untuk mendiskusikan program perencanaan keuangan di hari tua demi kesejahteraan Anda dan keluarga tercinta. (*)
Eddy KA Berutu
Direktur Eksekutif AAJI
(//rhs)