JAKARTA - Perbankan diminta untuk cermat mengatur likuiditas dengan hati-hati dalam mengucurkan kredit. Hal ini terkait dengan ketatnya persaingan dalam merebut likuiditas.
"Kondisi saat ini menuntut bank untuk berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Dalam situasi tekanan inflasi tinggi saat ini, agak mengherankan jika ekspansi kredit mencapai 35 persen dan loan to deposit ratio (LDR) 76 persen," kata Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetyantono, di Jakarta, Rabu (3/9/2008).
Tony menuturkan, bank diminta cermat dalam melakukan ekspansi pertumbuhan kredit. Bahkan, jika diperlukan bank diminta mengerem laju pertumbuhan kreditnya agar tidak terjadi lonjakan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di masa depan dan menghindari terjadinya ketidaksesuaian (mismatch) antara jumlah simpanan dan kredit.
"Bank harus kian selektif mengucurkan kredit. Langkah ini menyebabkan bank masih dapat mengelola likuiditasnya dengan baik karena kepercayaan pasar pada sistem perbankan masih cukup positif," tandasnya.
Tony menilai penyediaan dana relatif terbatas untuk menjaga inflasi. Selain itu sumber pendanaan dari berbagai instrument terbilang mahal, terkecuali bisa mengakses pasar modal dengan cepat. Atas kondisi tersebut, bank harus cermat maupun selektif dalam mengucurkan kredit agar dana yang tersedia tidak terbuang percuma.
Sementara Direktur Biro Riset Infobank Eko B Supriyanto mengatakan terbatasnya likuiditas yang terjadi saat ini menyebabkan bank cenderung menaikkan suku bunga simpanan (tabungan dan deposito). Ketatnya likuiditas dipicu oleh ekspansi kredit yang terlampau tinggi sedangkan menaikkan suku bunga dilakukan untuk menjaga likuiditas bank agar tidak mismatch akibat kredit yang mengucur terus menerus.
Eko menuturkan, perbankan terpaksa menaikkan bunga simpanan karena bank asing lebih agresif dalam melakukan kebijakan tersebut. Buktinya, untuk simpanan di atas Rp5 miliar, bank asing berani memberi suku bunga antara 11,5-11,75 persen sehingga bank lain harus mengikutinya.
"Bank asing lebih berani dan gila-gilaan dalam menaikkan suku bunga simpananya. Mau tidak mau, bank lain terpaksa mengikuti langkah serupa," tegasnya.
Kendati demikian, lanjut Eko, kondisi saat ini tidak akan membuat perbankan kolaps. Sebab, kredit yang dikucurkan tidak berjangka panjang dan yang terjadi adalah penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sesaat.
"Bank-bank memang sedang tercekik likuiditasnya, tetapi tidak sampai membuat bank kehabisan nafas. Yang terjadi hanya penurunan NIM sesaat hingga akhir tahun 2008. jika inflasi sudah mereda, maka likuiditas kembali longgar," tegasnya.
Eko menambahkan untuk menutupi gap likuiditas ini, maka bank perlu memikirkan segera melepas obligasi rekapitalisasinya.
(Tomi Sujatmiko/Sindo/rhs)