JAKARTA - Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, upaya pemerintah mendorong kegiatan ekonomi sektor riil melalui pembiayaan perbankan makin sulit diharapkan. Pasalnya, kenaikan BI Rate telah memaksa kalangan perbankan menaikkan tingkat suku bunga kredit, baik investasi maupun konsumsi.
"Kebijakan BI sudah tidak bisa diharapkan untuk menggerakan sektor riil dari sisi pembiayaan perbankan. Dan ini bisa berlangsung hingga tahun 2009 nanti. Karena itu, kita tidak bisa lagi menggunakan instrumen perbankan," ujar Paskah, di Gedung Bappenas Jakarta, Kamis (4/9/2008).
Menurut Paskah, kebijakan BI yang terus menaikkan tingkat suku bunga acuan akan memaksa pemerintah untuk makin mengoptimalkan APBN dalam menggerakan sektor riil. Sedang skim-nya, bisa ditempuh melalui mekanisme Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun revitalisasi modal ventura yang saat ini diusulkan ke DPR dengan rencana alokasi anggaran Rp5-7 triliun.
Paskah menjelaskan, sebetulnya tingkat suku bunga acuan diharapkan untuk bertahan dalam kisaran 8,5 persen. Hal ini sesuai dengan komitmen pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah tahun 2008 dimana tingkat suku bunga diproyeksi sebesar 8,5 persen.
Lebih jauh, Paskah membantah bila lonjakan inflasi saat ini akibat keteledoran pemerintah dalam mengkoordinasikan kebijakan distribusi bahan pokok masyarakat. Menurutnya, pemerintah telah menjamin pasokan kebutuhan maupun barang dalam kisaran aman dan stabil.
(Zaenal Muttaqin /Sindo/ade)