JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia makin meragukan kebijakan suku bunga BI rate dalam meminimalkan laju inflasi. Pasalnya, meski tingkat suku bunga acuan BI rate dinaikkan, namun pada saat yang sama laju inflasi juga tetap melonjak tinggi.
"Banyak kalangan mulai meragukannya, dan mendesak otoritas moneter serta pemerintah tidak terus menerus mengandalkan BI rate sebagai senjata memerangi inflasi," ujar Ketua Komite Tetap Moneter dan Fiskal Kadin Indonesia Bambang Soesatyo kepada okezone di Jakarta, Jumat (5/9/2008).
Bambang menduga, kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan kembali tingkat suku bunga acuan BI rate karena tampaknya BI tidak memiliki alternatif lain untuk menjinakkan laju inflasi. "Pertanyaannya adalah setelah sekian kali menaikan BI rate, apakah instrumen dari bank sentral ini efektif meredam inflasi," tandasnya.
Bambang mengungkapkan, kenaikan BI rate malah hanya mendorong respon bank-bank umum untuk menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga tak bisa dihindari karena perbankan mulai dipaksa menahan laju pertumbuhan kredit yang akhir-akhir ini dinilai terlalu cepat.
"Sayang, percepatan pertumbuhan kredit didominasi kredit konsumsi. Dengan menaikkan suku bunga, kredit konsumsi bisa direm, tetapi tidak menguntungkan bagi kegiatan produksi, karena suku bunga kredit investasi maupun kredit modal kerja juga naik," pungkasnya.
(Zaenal Muttaqin /Sindo/ade)