INILAH tonggak sejarah dalam kebebasan berekspresi di Singapura, seorang pengusaha membentangkan poster-poster untuk menarik perhatian tentang kegagalan investasi asing dan sekelompok orang melakukan demonstrasi untuk menentang pelecehan terhadap para pembantu rumah tangga (PRT).
Namun, jangan kecewa jika bentuk demonstrasi publik itu sangat jauh dari perkiraan semula karena tidak ada kerusuhan atau api yang menyala.Paling tidak, pertunjukan demonstrasi di sana kini "mirip" dengan yang sesungguhnya.
Pada Senin (1/9) pukul 09.00 waktu setempat, hari pertama pemberlakuan peraturan bebas di Speakers' Corner, Taman Hong Lim, Teng Liang Huat,52,seorang pengusaha, langsung menggelar pertunjukannya.
Pada menit-menit terakhir, organisasi nonprofit Hearers of Cries yang awalnya mendaftarkan acara di Corner pada sore itu sebagai pidato biasa, langsung memutuskan untuk mengubah acara tersebut menjadi demonstrasi, lengkap dengan spanduk-spanduk dan poster- poster.
Sebagian besar aturan yang semula sangat membatasi pengunjuk rasa kini diliberalisasikan, yakni izin polisi tidak diperlukan lagi untuk bicara di taman tersebut, spanduk atau pamflet atau peralatan lain, termasuk pengeras suara juga diizinkan digunakan.
Karena itu, sejumlah aksi seperti membakar boneka tokoh politik atau parade pernikahan gay, mungkin bisa dilakukan dan pemerintah tidak melarangnya sepanjang dilakukan di taman tersebut. Banyak orang terkejut, termasuk pensiunan Roger Poh, 61, saat melihat demonstrasi di taman tersebut.
Poh yang berasal dari Jalan Kayu, merasakan ada perubahan dalam demonstrasi 22 menit yang dilakukan Hearer of Cries. Dalam demonstrasi itu, pendiri Hearer of Cries, Mike Goh, meniup peluit ke arah para PRT yang pernah mengalami pelecehan dan penyiksaan.
Tentu saja para sukarelawanlah yang berpakaian layaknya PRT dan mengalami penyiksaan itu, lengkap dengan cat warna luka-luka dan gantungan leher.Para PRT itu tampak seolah meminta tolong. Pidato dalam demonstrasi itu hanya dilakukan selama kurang dari tiga menit.
"Saya sangat kecewa, saya kira mereka akan melakukan lebih dari itu. Saya harap demonstrasi pada menit terakhir mengangkat topik kontroversial seperti besarnya gaji menteri dan kenaikan biaya hidup. Isu PRT ini tidak berbahaya.Ini suatu antiklimaks," papar Poh.
Sedangkan Alan Tan yang berada di taman itu menyesalkan jumlah orang yang datang hanya 30 hingga 40 orang. "Saya pikir semua warga Singapura tahu, mengapa mereka tidak berada di sini?" tanya Tan, 50, yang merupakan seorang guru. "Hari ini Hari Guru, kita seharusnya melihat lebih banyak pelajar dan guru.
Apakah mereka takut atau mereka tidak tertarik?" ujarnya. Poh juga mempertanyakan keberadaan kelompok oposisi atau aktivis lokal lainnya." Ini hari pertama dan seluruh media berada di sini; ini peluang penting untuk didengarkan," tutur Poh.
Sebagian pengunjung mengungkapkan rasa pesimistis tentang kelanjutan kebebasan demonstrasi di Taman Hong Lim.Satu atau dua orang yang ikut dalam kerumunan penonton terdengar berkata, "Ini akan mati secara alami", seperti saat Speaker's Corner yang dibuka pada 1 September 2000 dengan sebuah letusan keras kemudian menghilang cepat tinggal suara desisan.
Salah satu pengunjung taman, arsitek Foo Siew Mun, yakin bahwa internet kini menjadi alat paling vokal melalui forum diskusi zaman baru, sedangkan demonstrasi langsung kini kurang efektif sebagai gerakan penekan.
Namun, bagi seseorang seperti Teng, yang secara tertulis menorehkan namanya dalam buku rekor saat dia mendaftar untuk memasang poster-poster, menganggap demonstrasi di taman itu sebagai alat pelepas rasa frustrasinya.
Pada pukul 13.00-17.00 waktu setempat, Teng dalam bahasa China memaparkan dengan rinci kesalahan yang dilakukan pengusaha Singapura di luar negeri dan masalah birokratis yang dialami para pengusaha. Dia memaparkan masalah hukum saat berinvestasi di properti asing.
"Saya menggunakan kesempatan ini sebagai cara menyuarakan keprihatinan saya tentang masalah itu dan saya sangat berharap seseorang dapat menolong saya keluar dari masalah ini," kata Teng mengenang pemberlakuan peraturan mengekang di Speakers' Corner sehari sebelumnya.
Aksi Teng membuatnya didekati banyak media massa, wisatawan, atau orang lain yang hanya melintas, termasuk mahasiswa hukum, Kerushnan, bersama teman-temannya yang sengaja datang ke taman itu untuk melihat "aksi apa pun" yang mungkin digelar di sana.
Kerushnan, 38, menganggap peraturan baru itu tidak terlalu berpengaruh bagi seorang pria di jalanan yang ingin menyuarakan opini dan masalahnya. Namun, aksi kedua pada hari itu berakhir terlalu cepat bagi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah sore hari, untuk bisa ikut menyaksikan demonstrasi itu.
Hearer of Cries yang telah mendaftarkan demonstrasi mereka berakhir pada pukul 21.00 waktu setempat, ternyata sudah mulai berkemas pulang sebelum pukul 19.25. Tujuh anggota grup Hearer of Cries dalam aksi itu mendorong publik melaporkan jika terjadi pelecehan dan penyiksaan terhadap PRT.
Mereka menawarkan voucher sebagai imbalan setiap laporan yang ada. Dalam aksi itu, Goh tampak kewalahan dengan banyaknya perhatian media dan menolak memberikan penjelasan rinci dengan alasan wartawan bisa melihat di situs yang mereka buat pada 2002.
"Setiap orang dari kita dapat menjadi bagian untuk mencegah terjadinya pelecehan PRT," ungkap Goh.
Menurut Goh, demonstrasi di Corner merupakan awal kecil. Hearer of Cries berniat menggunakan Speakers' Corner sebagai cara menyebarkan pesanpesan mereka. Setelah semua berakhir, arsitek Foo mengutip kesimpulan, "Ini merupakan awal". Dan itu awal yang lemah. (*)
Oleh: Tan Hui Leng
huileng@mediacorp.com.sg
(//rhs)