Martin Blessing (Foto: ist)
Kendati baru seumur jagung menjabat CEO, toh ia sudah bisa membuktikan kepiawaiannya. Dalam tempo kurang dari empat bulan, ia berhasil mendongkrak keuntungan perusahaan lebih dari dua kali lipat.
Sosok Martin Blessing tiba-tiba saja jadi terkenal. Bagaimana tidak. Pekan lalu, ia menjadi tokoh yang menarik perhatian kalangan media terkemuka di jagat ini. Bila sang "bintang" begitu mengusik, bukan semata-mata karena kedudukannya sebagai chief executive officer (CEO) di Commerzbank, bank kedua terbesar di Jerman. Juga karena kebijakannya: lembaga yang dipimpinnya berhasil membeli Dresdner Bank AG, yakni bank ketiga terbesar di Jerman.
Karena itu, wajar, gebrakannya patut digolongkan sebagai peristiwa yang memiliki bobot berita. Bahkan, tergolong spektakuler. Mengambil alih Dresdner Bank, juga berarti mega-akuisisi senilai 9,3 miliar euro, atau setara dengan USD14,38 miliar. Yang tak kalah mengesankan, prestasi nan luar biasa ini berhasil diraihnya, di kala Martin baru seumur jagung (kurang dari 4 bulan) menjabat CEO Commerzbank.
Langkah bisnis Martin itu, bukannya tanpa perhitungan. Lewat gebrakannya itu, ia bertekad memperkokoh posisi Commerzbank di kancah persaingan. Terutama untuk memenuhi ambisinya mengimbangi pesaing terdekatnya, yakni Deutsche Bank. Dengan total aset 1,99 triliun euro, Deutsche Bank tetap bertahan di puncak sebagai bank dengan nilai aset terbesar.
Setelah membeli Dresdner Bank, benar, aset Commerzbank terdongkrak naik menjadi 1,1 triliun euro. Strategi ini memang belum jua bisa menandingi kekuatan pesaingnya itu. Tapi, setidaknya bisa dijadikan modal untuk meningkatkan kinerja Commerzbank.
Bukan hal yang mustahil, berkat kepiawaiannya, Martin bisa memacu pergerakan Commerzbank lebih cepat lagi, hingga pada akhirnya akan mampu mengungguli Deutsche Bank. Lebih dari itu, "Kami juga ingin berkiprah lebih besar lagi di kancah internasional," katanya, tentang ambisinya.
Peluangnya untuk itu, bukannya tak ada. Lewat strategi penggabungan itu, setidaknya bisa menghemat biaya operasional. Targetnya hingga 2009, ongkos yang bisa dihemat akan mencapai 2 miliar euro. Penghematan masih akan berlanjut ke tahun-tahun berikutnya. Hingga 2011, diproyeksikan akan mencapai 5 miliar euro. Kinerja perusahaan yang makin efisien, kata Martin, seyogianya akan memacu tiga pilar bisnis Commerzbank (private banking, business customers, dan corporate customer) lebih gesit lagi. Ujung-ujungnya, seluruh upaya ini akan menghasilkan kontribusi yang lebih besar lagi.
Martin mulai menduduki kursi CEO sejak pertengahan Mei lalu. Prestasinya selama itu memang cukup memesona. Selain berhasil mengakuisisi Dresdner Bank, ia juga disebut-sebut sebagai sosok yang menentukan performa Commerzbank. Pandangan yang bisa jadi benar. Maklum, sebelum dipercaya menduduki kursi puncak di bank ini, Martin sempat memegang jabatan yang cukup strategis, yakni sebagai managing director.
Lihat saja kinerja bank yang berdiri sejak 1870 ini selama 2007, total pendapatannya mencapai 22,11 miliar euro, dengan keuntungan 1,9 miliar euro. Hasil ini lebih baik ketimbang tahun sebelumnya, yang mencatatkan pendapatan 18,86 miliar euro, dengan laba 1,6 miliar euro.
Setelah pucuk pimpinan berada di genggamannya, kinerja Commerzbank makin berkibar. Selama kuartal II-2008, bank yang memiliki cabang di 40 negara ini berhasil membukukan pendapatan 1,17 miliar euro, dengan keuntungan 817 juta euro. Pencapaian ini jauh lebih baik ketimbang kuartal I-2008, yang mencatatkan pendapatan sebesar 1 miliar euro, dengan laba 280 juta euro.
Gajinya dalam Setahun Mencapai USD2 Juta
Karena itu, wajar, jika Martin mengundang banyak pujian. Antara lain dari Michael Dickman, CEO Allianz, salah satu pemegang saham Dresdner Bank. Menurutnya, langkah akuisisi yang telah dilakukan Martin sungguh tepat. Untuk menyikapi kondisi perekonomian dunia yang tengah lesu, seyogianya ditempuh langkah penggabungan (merger atau akuisisi). Dalilnya, daripada bertarung saling mengalahkan, lebih baik bersatu menggarap pasar.
Hanya saja, tak semua kalangan yang memuji. Ada juga yang menilai Martin sebagai pemimpin yang kontroversial. Uniknya, soal yang terakhir itu, layaknya polemik yang merebak di kalangan karyawan Commerzbank. Pemicunya, berkait dengan kebijakan SDM.
Dengan jumlah karyawan yang saat ini mencapai lebih dari 67 ribu orang, menurut sebagian karyawan, dianggap terlalu banyak. Karena itu, pihak manajemen berencana melakukan pemangkasan, sedikitnya 9.000 karyawan yang akan terkena PHK. Kabar tak sedap ini, jelas membuat resah sebagian karyawan lainnya. Boleh jadi karena itu, sampai saat ini Martin belum jua mengeluarkan kebijakan PHK.
Sebaliknya, ia tampak lebih bersemangat menyusun strategi pasca-akuisisi. Antara lain, ia mulai mengarahkan tim yang dipimpinnya agar lebih fokus menggarap sektor pembiayaan yang menyasar kalangan usaha kecil dan menengah (UKM). Upaya ini perlu ditempuh, mengingat pasar korporasi--setidaknya pada saat ini--dirasakan mulai jenuh.
Lebih dari itu, pasar UKM masih cukup menjanjikan. Potensinya di Jerman saja, sampai saat ini bercokol tak kurang dari tiga juta UKM. Dari potensi sebesar itu, hanya sekitar 100 ribu UKM yang baru bank-minded. Untuk mewujudkan rencana itu, Martin sudah berancang-ancang menambah kantor cabang di seluruh Jerman. Target hingga 2012, total kantor cabangnya akan mencapai 1.200 unit.
Bagi Martin menjadi CEO dari bank terkemuka di Jerman memang mendatangkan berkah tersendiri. Setiap tahunnya, ayah tiga anak ini akan memetik gaji dengan nilai sangat besar, yakni mencapai USD2 juta.
Martin dilahirkan di Bremen, 45 tahun lalu. Karirnya di dunia perbankan dimulai di Dresdner Bank AG. Debutnya kala itu sebagai karyawan magang (1983-1984). Setelah itu, ia kembali melanjutkan studinya. Tak tanggung-tanggung, ia menimba ilmu bisnis administrasi sekaligus di dua universitas, yakni University of Frankfurt dan University of St. Gallen (1984-1987).
Setelah berhasil menyelesaikan kuliahnya, ia langsung terbang ke Amerika, memburu gelar MBA di Universitas Chicago. Usai meraih gelar MBA, di Negeri Abang Sam ia sempat bekerja delapan tahun di lembaga konsultan keuangan McKinsey (1989-1996). Selepas dari sana, pada 1997 ia kembali bergabung dengan Dresdner Bank AG. Ia sempat mengabdi selama tiga tahun di bank ini. Posisi tertinggi yang berhasil dicapainya di sana hanya sebagai manajer. Oleh karena itu, rupanya, ia tak menampik tawaran sebagai direktur di Bank AG Munich.
Baru pada 2001 ia memutuskan untuk berkarya di Commerzbank. Tugas pertama yang diembannya sebagai managing director. Berkat posisinya ini, membuka peluang bagi Martin menjalin hubungan dengan kalangan eksekutif terkemuka dari berbagai perusahaan. Hingga akhirnya ia berkesempatan membuka jalan terlaksananya program akuisisi Dresdner Bank.
(Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)