Persaingan antar-pemegang merek bus di negeri ini amat sengit. Beberapa di antaranya ada yang berhasil menyodok ke atas, sementara yang lainnya hanya mampu bertahan. Tapi, ada juga yang tersingkir.
Salah satunya yang sudah melempar handuk dari kancah persaingan adalah Nissan Diesel. Bahkan, "Sejak 2006 kami sudah tidak memproduksi bus lagi," kata Budi Susatya, Marketing Support PT Astra Nissan Diesel Indonesia, yakni Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Nissan Diesel di Indonesia.
Kebijakan tersebut, tambah Budi, tak semata-mata berlaku di Indonesia, juga di seluruh dunia. Karena pihak prinsipalnya, Nissan Diesel Motor di Jepang, sudah tak tertarik lagi bermain di jalur ini? Bisa jadi. Gejala ke arah sana mulai terlihat tanda-tandanya, setelah Volvo (gergasi otomotif asal Swedia) mengambil alih sebagian besar saham Nissan Diesel Motor pada 2007. Sejak setelah itu, industri ini lebih fokus mengembangkan pasar mobil dan truk.
Langkah tersebut, tak pelak, mengundang kontroversi. Bagaimana mungkin sebuah industri sekaliber Nissan bisa begitu saja meninggalkan pasar yang amat menjanjikan. Setidaknya dari pasar bus di negeri ini yang dinilai cukup prospektif. Lagi pula, citranya tak buruk-buruk amat. Lihat saja gebrakannya sampai 2006, pangsanya masih cukup tinggi, yakni sebesar 22 persen.
Lebih dari itu, kalangan peminatnya masih cukup banyak. Nyatanya, sampai Juli lalu pesanan masih terus mengalir, bahkan dengan skala yang sangat menggiurkan: total sebanyak 710 unit. Bila pihak ATPM-nya masih bisa melayani, jumlahnya sangat terbatas: setiap bulannya hanya 18 unit. Itu pun dari model bus sisa produksi hingga 2006.
Jika pihak Nissan Diesel Motor lebih tertarik mengembangkan produk non-bus, tampaknya bisa dimaklumi. Pasalnya, pasar mobil dan truk ternyata masih lebih menggiurkan. Lihat saja data Gaikindo hingga Juli lalu, dari total penjualan 350.612 unit, sekitar 95 persen dikuasai oleh jenis kendaraan non-bus. Sedan dan mobil niaga masih mendominasi, skala penjualannya mencapai 70 persen, sementara truk hanya 27,19 persen. Bus sendiri hanya berpangsa tak lebih dari 0,5 persen.
Atas dasar itu, langkah yang ditempuh Nissan, bisa jadi lebih menguntungkan. Buat mereka, masih lebih menjanjikan bermain di ladang nan basah ketimbang bersaing di lahan sempit.
Tren Penjualan Bus
| Tahun | 2001 | 2002 | 2003 | 2004 | 2005 | 2006 | 2007 | 2008* |
| Unit | 1.773 | 2.063 | 1.529 | 2.153 | 2.292 | 1.561 | 1.700 | 1.876 |
Sumber: Gaikindo, Hingga Juli 2008