kolom ekonomi


Masa Suram bagi Banyak Perusahaan Amerika

Selasa, 16 September 2008 - 10:04 wib
text TEXT SIZE :  

KUARTAL II-2008 ini merupakan hujan laba bagi para raksasa minyak: enam perusahaan minyak terbesar di Barat melaporkan kenaikan laba 40%. Laba keenamnya bila dikombinasikan mencapai angka fantastis USD51,6 miliar.

Exxon Mobil-yang terbesar di antara keenamnya, mencatatkan raihan USD11,7 miliar. Ini merupakan rekor laba kuartal tertinggi yang pernah dipublikasikan perusahaan Amerika, sekaligus memecahkan rekor pencapaian laba Exxon sebelumnya. Namun, tidak satu pun entitas bisnis AS yang mampu mengulang kisah itu dalam kuartal berikutnya, sebagian dipicu jatuhnya harga minyak dari titik puncaknya di level USD147 pada Juli silam.

Namun jangan salah mengira dulu. Jangan menduga merosotnya harga energi berarti laba yang lebih tinggi bagi korporasi Amerika lainnya. Harga minyak jatuh karena melambatnya pertumbuhan global-dan kelihatannya merupakan penjelasan yang paling masuk akal- meski tidak bisa dipungkiri adanya peranan spekulan yang kembali mengalihkan portofolio investasinya keluar dari komoditas setelah nilai tukar dolar AS menguat lagi.

"Sebenarnya ketika harga minyak naik tiga kali lipat antara kurun 2002-2007, laba korporat secara agregat mengalami peningkatan. Ini merefleksikan kuatnya permintaan global," ujar David Rosenberg, analis ekonomi di Merril Lynch. Karena itu, dia menilai anjloknya harga energi merupakan "gejala rontoknya permintaan (demand)" yang berimplikasi negatif terhadap kemampulabaan (profitabilitas) perusahaan secara keseluruhan.

Rosenberg mengungkapkan setidaknya ada empat penjerat yang mencekik kemampulabaan korporasi di Negeri Paman Sam: menipisnya margin keuntungan, kewajiban membayar utang karena situasi pasar kredit yang makin ketat, harga energi merosot, dan kombinasi pelambatan pertumbuhan ekonomi di luar Amerika plus penguatan nilai tukar dolar AS. Dia memprediksi laba perusahaan yang masuk daftar S&P 500 tahun ini dan tahun depan akan anjlok 7%. Sampai sekarang memang sebagian kinerja laba korporasi multinasional masih terlihat cukup prima, bahkan di Amerika- kecuali pada industri jasa keuangan.

Laba pemain jasa keuangan disapu krisis kredit perumahan (subprime mortgage). Namun, kemampulabaan keseluruhan untuk S&P 500 turun 31% pada kuartal IV/2007 dan merosot sekitar 27% pada paruh pertama tahun ini. "Kinerja tersebut adalah yang terburuk kedua sejak Perang Dunia II," ulas Martin Barnes dari Bank Credit Analyst. Sekadar catatan, kinerja terburuk adalah ketika terjadi resesi 2001. Walaupun demikian, dengan mengecualikan sektor industri finansial, laba S&P 500 sejatinya naik 4,6% pada kuartal II/2008.

Kinerja ini secara relatif ditopang tingginya harga minyak sehingga mendongkrak laba perusahaan-perusahaan energi seperti Exxon Mobil. Korporasi ini berkontribusi terhadap 20% laba perusahaan dalam daftar S&P 500. Angka tersebut mengalami kenaikan dari kontribusi sekitar 5% pada lima tahun lalu. Laba perusahaan AS juga ditopang kuatnya demand dari luar negeri, terutama dari pasar negara berkembang.

"Kebalikannya, perusahaan domestik AS yang bergerak di bidang nonfinansial menyaksikan laba mereka turun mencapai hampir 14% per tahun dalam enam kuartal terakhir," ujar Barnes. Namun, laba anak usaha perusahaan nonfinansial AS yang menjalankan bisnisnya di luar negeri justru terus meningkat selama 22 kuartal berturut-turut. Kebanyakan dari mereka meraih laba per tahun mencapai double digit.

"Negara-negara yang mewakili separuh dari ekspor AS, seperti partner dagang utama macam Jepang, Kanada, Jerman, dan Prancis membukukan sedikitnya satu kuartal pertumbuhan PDB negatif," ujar Rosenberg. Seiring pertumbuhan ekonomi global melambat, sokongan kinerja dari luar negeri ini sepertinya akan melemah. Apalagi bila ditambahi fakta bahwa nilai tukar dolar meningkat, sehingga hampir pasti kuartal ke depan merupakan masa-masa suram bagi korporasi Amerika yang menjalankan usahanya di mancanegara.

Beberapa ekonom memprediksi kalau kenaikan nilai tukar dolar AS barusan merupakan tren jangka panjang. "Perusahaan-perusahaan Amerika sama sekali tidak siap menghadapinya," ujar Wolfgang Koester dari FiREapps. "Mereka mengikuti saja melemahnya dolar dan sekarang tidak menyiapkan lindung nilai (hedging) terhadap nilai tukar dolar yang tiba-tiba berbalik naik," kata dia. Makin kuat nilai tukar dolar AS, makin membantu aktivitas ekspor dari pebisnis asing ke AS.

Raksasa manufaktur pesawat Eropa Airbus misalnya, kinerjanya sempat tertekan akibat pelemahan nilai tukar dolar AS karena perusahaan ini bergantung pada pendapatan dalam mata uang dolar untuk menutup biaya produksi dalam mata uang euro. Menurut kalkulasi Barnes, jika nilai tukar dolar AS tetap berada pada kisaran posisinya sekarang sampai akhir tahun ini dan pertumbuhan industri manufaktur global melambat menjadi 2% dari 4,5%, pertumbuhan laba perusahaan AS yang berbisnis di luar negeri akan melambat menjadi 2,5% pada 2009 dari 21% tahun ini.

Kalau nilai tukar dolar AS naik rata-rata 5% dan pertumbuhan global anjlok menjadi 0%, laba korporasi Negeri Paman Sam yang berbisnis di luar negeri bakal rontok 7%. Prediksi Rosenberg bahkan lebih negatif daripada kebanyakan ekonom lain. Ini karena dia memperkirakan PDB Amerika akan merosot, sementara konsensus umum yang dipakai adalah ekonomi akan tetap tumbuh meskipun pada level yang moderat.

Yang kontras, analis pasar modal di Wall Street justru memprediksi kenaikan lebih dari 20% pada laba perusahaan yang terdaftar di S&P 500 pada 2009. Mereka mengasumsikan keberuntungan korporasi jasa keuangan akan tiba dan ekonomi Amerika akan bertumbuh. Perlu dicatat bahwa kenaikan laba di atas 20% itu dalam perhitungannya dikaitkan dengan pertumbuhan PDB sekitar 4,5% dan tidak akan pernah terjadi jika pertumbuhan PDB kurang dari 3,2%.

"Angka tersebut terlalu optimistis, dua kali lebih tinggi dari kesepakatan prediksi analis untuk tahun depan," bantah Rosenberg. Dia menduga para analis Wall Street itu akan sibuk membenahi prediksi laba korporasi mereka untuk kuartal sekarang agar perkiraan ekonomi 2009 nanti tidak meleset jauh.

Ini karena hasil capaian kinerja per kuartal saat ini akan menjadi basis perhitungan untuk memprediksi kinerja pada tahun berikutnya. Meski Exxon Mobil tetap mampu bertahan dengan pencapaian laba yang sedikit lebih rendah, kebanyakan perusahaan lainnya tengah berjuang untuk memperoleh tambahan pendapatan demi mendapat cukup uang untuk membayar utang mereka.

Lembaga pemeringkat Moody's baru-baru ini menaikkan prediksi mereka untuk obligasi korporat dengan imbal hasil (yield) tinggi yang gagal bayar menjadi 7,4% dalam 12 bulan mendatang. Angka gagal bayar selama tahun lalu adalah 2,65%-dan 4% per tahun hingga September 2008-yang berarti naik dari level serendah 0,96% pada 2007. Jumlah surat obligasi yang dalam keadaan tidak sehat (misalnya menawarkan imbal hasil minimal 1.000 basis poin lebih tinggi daripada obligasi pemerintah/treasury bond pada maturitas yang sama) melonjak 27% menurut indeks obligasi dengan imbal hasil tinggi yang dirilis Merril Lynch.

Angka ini memang hanya naik 1%, tetapi jelas cukup berarti untuk menilai kemampuan korporasi AS membayar utang-utangnya kepada kreditor. Daftar perusahaan yang sedang dalam kesulitan di AS sekarang meningkat tidak hanya sebatas pengembang properti atau pemasok bahan bangunan sebagai imbas krisis kredit perumahan (subprime mortgage). "Ia juga meluas pada bidang bisnis ritel, kasino, penerbit, dan televisi kabel," ujar Martin Fridson, pengamat obligasi perusahaan.

Perusahaan-perusahaan dengan utang bermasalah sekarang juga mencakup nama-nama tenar seperti Delta Air Lines, Clear Channel, Toys "R" Us, dan Reader's Digest. "Kalau melihat kondisi sekarang, kemungkinan akan ada lagi kebangkrutan mengejutkan oleh perusahaan-perusahaan berskala besar," terang Fridson. Bubbles kredit sekarang tampaknya memang menjerumuskan banyak perusahaan besar di Amerika, sehingga makin sulit bagi kreditur untuk menuntut pengembalian uang mereka.

Kolapsnya bank KPR Fannie Mae dan Freddie Mac, kemudian disusul Lehman Brothers, menjadi bukti yang sangat jelas mengenai betapa parahnya kondisi sektor perbankan AS sekarang. (*)

Freddy Mutiara
freddy@seputar-indonesia.com


(//mbs)