ist
JAKARTA - Keputusan pemerintah di negara-negara Asia untuk menghentikan ekspor beras semakin pada saat harga pangan meningkat justru mendorong harga beras semakin melonjak, meski langkah ini untuk mengamankan stok dalam negeri.
"Lonjakan harga pada 2008 sebagian disebabkan oleh larangan ekspor di India, Vietnam yang masing-masing merupakan eksportir beras terbesar kedua dan ketiga di dunia serta di tempat-tempat lain," kata Kepala Ekonom ADB Ifzal Ali melalui siaran pers Update Perkiraan Perkembangan Ekonomi Asia 2008 yang diterima okezone, Senin (16/9/2008).
ADB menilai hal tersebut menyebabkan kepanikan di antara para pembeli, konsumen, pedagang dan petani. Akibatnya, penarikan pasokan beras secara tiba-tiba di pasar internasional yang telah menipis membuat harga melonjak tinggi.
"Akibatnya harga bahan makanan tidak akan turun ke tingkat seperti sebelum tahun 2008, paling tidak hingga beberapa waktu ke depan," ujarnya.
Jika negara-negara mulai berinvestasi pada sektor pertanian, panen yang baik baru akan terjadi selama beberapa tahun ke depan. Padahal panen itu diharapkan bisa membangun kembali stok biji-bijian dunia yang menurun.
"Untuk melakukan hal ini, harga yang diterima petani untuk produksi mereka harus tetap tinggi terutama karena harga input pertanian meningkat bersamaan dengan meningkatnya harga minyak. Harga pupuk misalnya melonjak, transportasi dan harga bahan bakar untuk peralatan pertanian juga naik," terang Ali.
(jri)