Sektor Riil


Lifting Minyak (4)

Kembali ke Fundamental

Jum'at, 19 September 2008 - 09:01 wib
text TEXT SIZE :  
Share

Pergerakan harga minyak kini mulai bersih dari spekulasi. Kalau sudah begitu, para konsumen minyak di Barat sana jelas berharap harga bisa lebih murah lagi.

Kalau ada yang layak disebut sebagai misteri dunia di awal abad ke-21, maka pergerakan harga minyak mentah mungkin adalah salah satunya. Juli silam, banderol si emas hitam itu melesat begitu tinggi, hampir menyentuh level USD150 per barel.

Tak sampai dua bulan berselang, banderol minyak melorot tajam. Akhir pekan lalu, harga minyak di pasar komoditi New York ditutup di posisi USD101,18 per barel. Setelah terjadinya penurunan yang amat tajam itu, pelbagai analisis muncul sebagai argumen atas penurunan tersebut.

Maka, disebutkanlah bahwa pelemahan ekonomi dunia telah membuat permintaan akan minyak menurun. Selain itu, factor menguatnya kembali dolar terhadap mata uang dunia lainnya, terutama euro, membuat para pelaku pasar banyak mengalihkan portofolionya dari pasar komoditi ke pasar finansial. Berkurangnya duit yang berputar di pasar komoditi tak ayal membuat efek gelembung balon pada harga minyak ikut kempes.

Boleh jadi argumen-argumen itu benar. Dan kalau memang seperti itu kejadiannya, ditambah lagi jika gejala tersebut berlangsung cukup lama, maka pergerakan harga minyak akan kembali lebih dipengaruhi oleh faktor fundamental. Apalagi, kalau situasi politik dunia bisa lebih stabil dan badai-badai yang terus menerjang kawasan teluk Meksiko tidak terlalu berbahaya dampaknya. Selama setahun terakhir ini, pergerakan harga minyak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor spekulatif belaka.

Lantas, akan berada di kisaran berapa harga minyak dunia kelak? Dalam RAPBN 2009, tertulis, asumsi harga minyak ICP (Indonesian Crude-oil Price) tercatat USD100 per barel. Jadi, kurang lebih, harga minyak dunia di tahun 2009 akan berada di kisaran USD110 per barel. Pri Agung Rakhmanto, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi, menilai asumsi itu cukup masuk akal.

Menurut Pri Agung, para produsen minyak, terutama anggota OPEC (kartel negara eksportir minyak), tidak terlalu suka jika harga minyak kemahalan. Sebab, harga mahal hanya akan membuat permintaan merosot. Kemarin saja, negara-negara Eropa banyak mengurangi konsumsi BBM dan menggantinya menjadi biofuel. Amerika, konsumen BBM paling rakus, juga mengurangi permintaan minyak mereka pada semester pertama 2008, hingga 800 ribu barel per hari. Itu adalah penurunan paling tajam selama 26 tahun terakhir.

Namun, Pri menilai, OPEC tidak juga menghendaki harga minyak berada di bawah USD100 per barel. Makanya, ketika banderol si licin itu kemarin sempat terpeleset ke level USD100 per barel, OPEC menegaskan akan mengurangi pasokan. Mereka pun berniat mengoreksi produksinya sebanyak 520 ribu barel per hari menjadi tinggal 28,5 juta bph. Itu sebabnya, Pri menilai asumsi harga minyak di RAPBN 2009 cukup realistis.

Kurtubi, Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies, mengatakan, ketika OPEC memberi sinyal bahwa mereka tidak suka kalau harga minyak lebih rendah dari USD100, maka itu adalah pertanda bahwa penguatan bisa terjadi lagi. Ia juga mengingatkan, di kuartal keempat 2008 ini, negara Barat akan mengalami musim dingin. Jadi, permintaan minyak akan meningkat. Kurtubi menduga, hingga akhir tahun, harga akan bergerak di kisaran USD120 per barel.

Persoalannya, apakah keinginan OPEC itu bisa terpenuhi? Belum tentu juga. Soalnya, kalangan Barat kelihatannya ingin harga minyak berada di bawah level USD100 per barel. Sejumlah bank investasi juga sudah merilis perkiraan terbaru mereka seputar harga minyak itu. Semua menunjukkan, besar kemungkinan, si licin akan tergelincir ke bawah cepe.

Joe Stanislaw, senior adviser dari Deloitte, menuturkan, pergerakan harga menuju ke bawah level USD100 akan memberikan efek psikologis yang bagus bagi perekonomian dunia dan pengendalian inflasi. Joe menuturkan, kebanyakan negara mencantumkan harga USD80 sampai USD90 per barel dalam budget mereka. "Kalaupun ada yang lebih tinggi, paling bedanya tipis," katanya.

Pendapat senada dilontarkan Simon Wardell dari Global Insight. "Kita akan menuju ke bawah USD100 karena faktor fundamental menuntut begitu," katanya. Paul Horsnell dari Barclays Capital juga menuturkan, harga yang paling realistis itu sekitar USD90 per barel. Richard Shaw, Presiden QVM Group, bahkan melihat bahwa bisa saja harga bergerak ke bawah USD90, dan itu ia nilai sangat baik. (Trust//rhs)

Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4