JAKARTA - Departemen Energi Amerika Serikat sebelumnya memprediksi, harga minyak di tahun 2009 akan berada di kisaran USD120 per barel. Tapi, belakangan, mereka mengubah perkiraannya.
Menurut mereka, harga minyak rata-rata sepanjang 2008 akan sekitar USD100 per barel. Lantas, tahun depan, banderol rata-rata sekitar USD93 per barel. Perubahan itu diajukan setelah melihat angka pengeluaran konsumen Amerika yang melemah, sehingga akan mendorong penurunan permintaan minyak di negara itu.
Amerika dan negara-negara Barat boleh saja mengalami pelemahan permintaan. Tapi, belum tentu dengan Cina dan India, dua negara yang paling tumbuh permintaan minyaknya. Meizar Rahman, analis migas, mengatakan, tahun depan akan ada tambahan permintaan minyak sekitar 1,8 juta bph. Separuh dari jumlah itu datang dari Cina. Menurut Meizar, peningkatan permintaan dari Cina dan India akan sulit dibendung.
Soalnya, tingkat konsumsi minyak di negara-negara itu cenderung sangat kecil, jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Padahal, Cina dan India juga tengah bergerak menjadi negara maju.
Kalau sudah begitu, maka dugaan harga minyak akan turun hingga ke bawah level USD100 per barel bisa saja berantakan. Mohammad Ali Khatibi, Gubernur OPEC untuk Iran, bahkan sudah menyerukan kepada seluruh anggota OPEC untuk memotong produksi hingga 1,5 juta bph. Menurut Khatibi, upaya itu perlu dilakukan untuk menyeimbangkan pasar global, hingga awal tahun depan.
Ia juga menuturkan, permintaan minyak, selama semester pertama tahun depan, diperkirakan akan sekitar 31 juta bph. Saat ini, produksi OPEC sekitar 32,6 juta sampai 32,8 juta bph. Makanya, pemangkasan produksi itu menjadi perlu dilakukan.
Hingga kini, anggota OPEC lain belum merespons seruan Khatibi. Tapi, Presiden Amerika George Bush Junior, jelas tak setuju. "Kami inginkan lebih banyak pasokan," ujar Dana Perino, juru bicara Gedung Putih.
Di kalangan pemain minyak, Iran dikenal sebagai "traditionally hawkish on price". Makanya, mereka sangat tegas menjaga agar harga tidak turun terlampau jauh. "Elang" lain dalam lingkungan OPEC adalah Venezuela. Negeri ini juga tak ingin harga minyak sampai terlempar. Hugo Chavez, Presiden Venezuela mengatakan, harga USD100 adalah fair. Di bawah itu, harga sudah tak masuk lagi. Ah, kalau sudah begini, pergerakan harga minyak memang masih bisa menjadi misteri.
(Trust//rhs)