Sektor Riil


Wawancara Khusus

Pri Agung: Revisi UU Migas, Ganti Menteri ESDM

Jum'at, 19 September 2008 - 13:13 wib
text TEXT SIZE :  
Foto: Departemen ESDM

JAKARTA - Usia boleh saja muda. Namun jika bicara soal industri perminyakan, Pri Agung Rakhmanto terbilang cukup piawai.

Tentu saja, itu karena pria kelahiran 33 tahun lalu ini mengambil pendidikan S1 dan S2 di ilmu perminyakan. Bahkan, sebentar lagi, ia akan meraih gelar PhD yang ia ambil sejak 2005 di Universiteit Twente, Belanda.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi itu pun menuturkan, asumsi produksi minyak sebesar 960 barel per hari masih terbilang konservatif. Sebenarnya produksi minyak nasional masih dapat terus digenjot. Namun karena birokrasi di BPMIGAS yang bertele-tele, membuat kegiatan eksplorasi menjadi terhambat.

Bagaimana tanggapan Anda mengenai asumsi lifting minyak 2009 yang sebesar 960 ribu barel per hari (bph)?
Angka itu terlalu konservatif. Apalagi kalau jika sudah masuk swap minyak Chevron dengan gas dari ConocoPhilips sebesar 50 ribu bph, plus tambahan dari Blok Cepu sekitar 20 ribu bph yang mulai produksi tahun depan.

Seharusnya asumsi itu berapa?

Saya cenderung untuk menambah target produksi sebanyak 20 ribu bph dari target yang telah dibuat oleh pemerintah, sebesar 950 ribu bph. Jadi, agar pemerintah bekerja keras, target produksi yang pas bagi saya sebesar 970 ribu bph. Namun pemerintah tidak berani. Panitia Anggaran juga tidak mau mengambil risiko kalau nantinya target tidak tercapai. Jika sampai target lifting ini tidak tercapai, seperti tahun lalu, perlu cadangan fiskal.

Idealnya, produksi minyak kita berapa?

Seharusnya kita bisa mencapai 1,2 juta bph. Tapi saya tidak setuju jika produksi naik, maka kelebihan uangnya dipakai untuk menutupi subsidi. Produksi itu ada di hulu dan subsidi di hilir. Kalau ada kelebihan uang karena peningkatan produksi, maka harus digunakan untuk pengembangan eksplorasi ladang minyak di tempat lain.

Bagaimana cara mencapai produksi minyak 1,2 juta bph?

Saat ini, kendati sempat turun, harga minyak lumayan bagus. Itu bisa membuat perusahaan perminyakan giat mencari lapangan baru. Selain itu, birokrasi harus dipangkas. Sejak adanya perubahan kewenangan perminyakan dari Pertamina ke BPMIGAS, proses pengajuan eksplorasi makan waktu lama, bisa tiga bulan. Sebelumnya, tidak sampai satu bulan, perusahaan sudah bisa melakukan eksplorasi.

Selain itu?

UU Migas sebaiknya direvisi dulu. Sebab, UU inilah yang melahirkan BPMIGAS. Kewenangan perminyakan di hulu seharusnya bukan di badan hukum pemerintah tapi di badan usaha. Kalau tidak bisa Pertamina, pemerintah dapat membuat badan usaha baru. Kalau industri perminyakan kita ingin lebih baik maka harus ada tekanan politik dari DPR. Kalau tidak, kita tunggu saja sampai pergantian Menteri ESDM sekarang.

Diganti sama siapa?
Wah, saya tidak tahu. Tapi kalau bisa pengganti itu datang dari luar Departemen ESDM. Kalau dari dalam, maaf ya, hasilnya akan sama saja.

Bagaimana prediksi Anda tentang harga minyak dunia ke depan?
Ini yang paling sulit. Tapi selalu ada sinyal kalau harga minyak akan naik atau turun. OPEC pernah bilang kalau harga minyak akan mencapai USD170 per barel. Kenyataannya, itu terdekati. Tapi, bila harga minyak terlalu tinggi, OPEC juga tidak nyaman. Sebab, negara-negara Eropa jadi banyak mengurangi konsumsi BBM. Sekarang, OPEC menghendaki agar harga minyak berada di kisaran USD100 per barel. Untuk menjaganya, OPEC memotong produksinya sebanyak 520 ribu bph menjadi tinggal 28,5 juta bph.

Bagaimana tren harga minyak sampai akhir tahun?

Harga minyak tidak akan terlalu tinggi selama tidak ada ketegangan politik, perang, atau badai. Ini karena pertumbuhan ekonomi dunia melambat sehingga permintaan minyak akan turun. Lalu ada juga penguatan mata uang AS terhadap euro sehingga ada pengalihan dana dari bursa komoditi ke bursa finansial. (Trust//rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4