Fiskal & Moneter


Kinerja Bank, Setelah Harga SUN Jatuh

Sabtu, 20 September 2008 - 16:22 wib
text TEXT SIZE :  

JAKARTA - Penurunan harga surat utang negara bakal mengganggu kinerja perbankan hingga akhir 2008. Tapi masih ada jalan keluar.

Tersungkurnya indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 1.800 pekan lalu, telah menghadirkan kekhawatiran banyak pihak. Penurunan indeks yang demikian tajam diyakini akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian. Apalagi, seperti kata Boediono, Gubernur Bank Indonesia, inflasi masih menjadi persoalan mendasar yang harus segera diatasi.

Makanya, BI mengerek tingkat bunga acuan hingga ke level 9,25 persen. Kenaikan ini, jelas, membawa dampak beruntun. Suku bunga pinjaman dan simpanan di perbankan ikut melambung. Sementara harga surat utang negara (SUN), khususnya yang berbunga tetap, makin tertekan.

Saat ini, banderol beberapa jenis SUN telah terpangkas cukup besar. Contohnya SUN seri FR0045 tahun 2007 yang pekan lalu hanya dihargai 79.000. Sedangkan FR0028 yang terbit 2005, hanya dihargai 89.700 atau 10,3 persen di bawah harga pari.

Terpuruknya harga surat utang tersebut, jelas, bakal memusingkan para investor. Apalagi jika investasi mereka terkena dampak perhitungan marked to market. Hampir dipastikan kinerja usaha akan terganggu. Dan ini sudah terjadi di sejumlah lembaga keuangan yang mengoleksi SUN dalam jumlah besar.
Salah satu contohnya di Bank Lippo. Pada semester I, Lippo merugi hingga Rp163,4 miliar.

Padahal, tahun lalu, perseroan bisa meraih untung dari SUN senilai Rp48,9 miliar. Akibat kerugian itu, kendati kreditnya tumbuh hingga 63 persen menjadi Rp23,5 triliun, laba bersih Lippo anjlok hingga 60 persen ke posisi Rp150,2 miliar (yoy).

Bank Mandiri (BMRI), sebagai kolektor besar SUN, juga mengalami dampak yang sama. Di paruh pertama 2008, perseroan merugi sebesar Rp75 miliar dari transaksi surat berharga. Potensi kerugian bisa bertambah karena yang belum direalisasi mencapai Rp151,8 miliar.

Kendati nilai kerugian dari transaksi surat utang ini tergolong cukup besar, manajemen Bank Mandiri masih bisa melangkah tegap. Maklum, laba bersih perseroan tetap melambung 21,9 persen menjadi Rp2,6 triliun. Nilai obligasi pemerintah yang dikoleksi BMRI hingga Juni lalu mencapai Rp88,3 triliun.
Dampak penurunan nilai surat utang juga dialami Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Pada semester I, BUMN ini mencatat kerugian sebesar Rp362,4 miliar. Hanya saja, kerugian itu bisa ditutup oleh kinerja kredit perseroan yang luar biasa. Di paruh pertama 2008, kredit BRI tumbuh 38,1 persen menjadi Rp134,8 triliun. Alhasil, laba bersihnya naik 19,5 persen menjadi Rp2,8 triliun.

Direktur Treasury Lippo Bank Gottfried Tampubolon memperkirakan, tingkat suku bunga masih akan tetap tinggi hingga akhir tahun. Sehingga, harga obligasi tidak akan pulih dalam waktu dekat. Kendati demikian, manajemen Lippo masih akan tetap mempertahankan portofolio obligasi negara yang mereka kelola. "Obligasi yang kami pegang tidak banyak berubah," katanya.

Meskipun harga obligasi terus menurun, sejumlah bankir mengaku tidak terlalu khawatir. Menurut mereka, kerugian yang timbul akibat marked to market sesungguhnya semu, sebab belum terealisasi. Bila kemudian harganya kembali naik, maka kerugian tersebut akan terhapus dengan sendirinya. "Penurunan harga obligasi pemerintah lebih banyak memengaruhi ekuitas," tutur Gatot M Suwondo

Dirut BNI itu menambahkan, obligasi fixed income sebenarnya cukup menguntungkan. Pasalnya, kupon bunga yang diberikan cukup tinggi, rata-rata di atas 11 persen. Atas dasar itulah Gatot berkeyakinan kinerja BNI akan tetap membaik kendati harga obligasi melorot.

Mengantisipasi kerugian lebih besar, pada semester II, manajemen BCA pun mengubah strategi portofolionya. Jahja Setiaatmadja, Wadirut BCA, menjelaskan, perseroan akan menyeimbangkan portofolio floating rate dan fixed rate. Selain itu, nilai obligasi yang siap dijual dan diperdagangkan akan dijaga di kisaran Rp200 miliar-Rp300 miliar.

Obligasi ini digunakan untuk menjaga likuiditas. Sementara pada semester I, nilai obligasi tersedia untuk dijual sebesar Rp2.576,3 miliar. "Khusus obligasi korporasi semuanya masuk keranjang hold to maturity" jelasnya. (Trust//rhs)