JAKARTA - Pemerintah akan membatalkan rencana eskalasi (kenaikan) sekitar 30 persen harga tabung gas elpiji 3 kg, menyusul turunnya harga baja dunia.
Keputusan tersebut akan dikeluarkan setelah Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian (Depperin) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) meneliti kenaikan harga bahan baku.
Dirjen ILMTA Depperin Ansari Bukhari mengatakan, hasil penilaian BPKP menyatakan bahwa harga baja dunia cenderung menurun sehingga akan berdampak pada penurunan harga baja di dalam negeri. Atas dasar itu,BPKP meminta PT Krakatau Steel (KS) memangkas harga bahan baku tabung baja.
"Itulah rekomendasi BPKP (kepada KS) atas permintaan Depperin. Saat ini tergantung KS apakah akan menetapkan harga baru (bahan baku tabung) karena harga baja dianggap masih tinggi atau justru akan menurunkan harga karena telah terjadi penurunan di pasar internasional," kata Ansari di Jakarta akhir pekan lalu.
Dengan adanya rencana pembatalan ini, ujar dia,harga tabung dipastikan akan kembali ke posisi awal atau sesuai Keputusan Menteri Perindustrian (Kepmenperin) No 36/2008 sebesar Rp129.857 per unit. Dengan patokan tersebut, diharapkan harga bahan baku baja SG-295 (bahan baku tabung) tidak beranjak di kisaran Rp12.000 per kg.
"Dengan kondisi tersebut, KS akan kami desak untuk tidak menaikkan harga bahan baku tabung elpiji. Namun, kami belum bertemu dengan manajemen KS sehingga hal ini baru akan dibahas minggu depan," kata Ansari.
Sementara, Direktur Pemasaran KS Irvan Kamal Hakim masih enggan berkomentar banyak terkait desakan pemerintah tersebut. "Saya tidak mau komentar karena semuanya masih dihitung," katanya.
Ketua Umum Asosiasi Tabung Baja Indonesia (Asitab) Tjiptadi mengatakan, produsen tabung nasional tidak berkeberatan apabila pemerintah membatalkan eskalasi harga tabung elpiji 3 kg, dengan catatan KS sebagai pemasok bahan baku tidak menaikkan harga bahan baku baja jenis SG-295. "Pada dasarnya kita mendukung rencana pemerintah, asal ada komitmen dari pihak yang lainnya," kata Tjiptadi kemarin.
Dia mengungkapkan, bahan baku yang dipasok KS tersebut merupakan komponen vital di industri tabung,mengingat hampir 100 persen produk yang dihasilkan berasal dari bahan baku based plate metal.Pada saat harga bahan baku KS naik dari Rp12.000 menjadi Rp13.500 per kg sekitar Juli lalu, produsen tabung menahan pembelian karena keberatan dengan plafon harga tersebut.
Asitab, lanjut dia, belum yakin KS akan bersedia menurunkan harga bahan baku tabung kendati ada desakan pemerintah agar KS menurunkan harga bahan bakunya.
"Saya belum yakin KS mau apa tidak (menurunkan harga). Kalau mau,selesai pula masalahnya.Harga baja ini pengaruhnya sangat signifikan," katanya.
(Agung Kurniawan/Sindo/rhs)