foto: ist
JAKARTA - Kementerian BUMN sudah mengingatkan jauh hari akan risiko fiskal yang harus diperhitungkan DPR, bilamana tetap ngotot menargetkan dividen BUMN sebesar Rp33 triliun.
Pasalnya, turunnya harga minyak dunia membuat Pertamina kesulitan meningkatkan dividennya, untuk menutupi target dividen BUMN mencapai angka Rp33 triliun.
"Kita realistis hanya mampu Rp27,7 triliun," papar Sekretaris Menteri BUMN Said Didu kepada wartawan di Jakarta, Jumat (26/9/2008).
Bahkan dirinya menilai tingginya pay out rasio (dividen) BUMN di beberapa sektor oleh DPR dinilai jelek karena akan menyulitkan BUMN. Idealnya, pay out rasio BUMN, sekira 25 persen dengan kondisi saat ini.
"Bagaimana Pertamina bisa setara Petronas kalau dividen terus ditingkatkan. Karena Petronas saja sejak didirikan tidak pernah dipungut dividen," tegasnya.
Sebagai catatan, dividen BUMN saat ini lebih diandalkan pada setoran Pertamina. Namun, saat ini akan menjadi kendala bagi Pertamina, karena tidak ada wind fall dan turunnya harga minyak dunia.
Adapun setiap tahunnya DPR selalu meningkatkan pay out rasio BUMN, 2003 sebesar 50 persen, 2004 sebesar 33 persen, 2005 sebesar 30,38 persen, 2006 sebesar 27,94 persen, 2007 sebesar 28,55 persen, dan 2008 sebesar 30,66 persen.
(ade)