JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung membaik dalam beberapa tahun terakhir ini, ternyata tidak selalu memberikan dampak positif terhadap lini kehidupan masyarakat. Salah satunya, dalam hal penciptaan tenaga kerja.
Demikian diungkapkan oleh ekonom yang juga mantan Menteri Perekonomian, Rizal Ramli, saat ditemui di Gedung DPD-RI, Jakarta, pekan lalu.
"Meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen dalam empat tahun terakhir, tapi itu tidak menciptakan lapangan pekerjaan alias jobless growth," ucapnya.
Dia menambahkan, sejak 2004-2008 indikator makro ekonomi Indonesia memang lumayan bagus. Sayangnya, Rizal menganggap, itu bukan murni hasil kerja pemerintah. Melainkan disebabkan oleh dua faktor eksternal. Pertama, naiknya harga komoditas seperti CPO dan hasil tambang.
"Booming komoditas ini membuat Indonesia diuntungkan walaupun volume ekspor tidak banyak berubah," ucapnya.
Kedua, derasnya aliran modal masuk jangka pendek (hot money) ke Asia, yang pada akhirnya meguntungkan Indonesia karena ikut kecipratan juga.
Menurut Rizal, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ini sangat berbeda jauh dengan Negara Asia Timur seperti China yang mengalami perbaikan ekonomi secara alamiah.
Penyebab pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa serta memiliki cadangan devisa sangat besar, bukan karena faktor eksternal. Melainkan karena ada perbaikan produktivitas dan daya saing.
"Sehingga kebangkitan Makro ekonomi China ada kaitannya dengan mikro. Pertumbuhan ekonominya menciptakan lapangan kerja," ucapnya.
(rhs)