Finance


Bank Terus Buru Likuiditas

Jum'at, 3 Oktober 2008 - 11:37 wib
text TEXT SIZE :  
foto: ist

JAKARTA - Perbankan terus berusaha mencari likuiditas guna mengantisipasi ketimpangan antara besarnya permintaan kredit dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Umumnya perbankan menaikkan bunga deposito untuk menarik DPK hingga memanfaatkan fasilitas repurchase agreement (repo) yang disediakan oleh Bank Indonesia (BI).

"Menjelang Lebaran, kami mendapat tambahan likuiditas sekira Rp12 triliun. Penambahan ini akibat kebijakan menaikkan bunga deposito yang mencapai 12 persen, belum memanfaatkan fasilitas repo yang diberikan BI," kata Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Wayan Agus Mertayasa di Jakarta, belum lama ini.

Wayan mengakui, beberapa waktu lalu memang terjadi pengetatan likuiditas sehingga perbankan berlomba menaikkan bunga deposito untuk mendapatkan dana dari masyarakat. Apalagi masyarakat sedang membutuhkan uang tunai menjelang Lebaran lalu.

Kebutuhan dana ini menurut Wayan digunakan untuk memenuhi komitmen kredit dan rencana bisnis bank yang sudah disusun sebelumnya, sehingga dengan adanya persaingan suku bunga ini perbankan menjadi sangat tidak efisien.

Selain itu, jika berlangsung lama bisa merugikan perbankan dan perekonomian secara umum. Untuk itu, dia menyambut kesepahaman antara bankir dalam menjaga tingkat bunga.

Wayan menuturkan, langkah pemerintah dan BI dalam mengatasi masalah ini cukup membantu. Namun, dia mengakui Bank Mandiri belum memanfaatkan fasilitas tersebut. Bukan saja pengalokasian dana pemerintah, perusahaannya juga belum menggunakan fasilitas repo.

"Kami belum memanfaatkan repo. Kebijakan menaikkan bunga deposito sesuai dengan perkembangan pasar dan besar pengaruhnya," tandas dia.

Sementara Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk Yap Tjay Soen menyatakan, kondisi likuiditas saat ini sudah membaik. Namun, dia membantah bahwa perbaikan ini sebagai hasil suntikan dana dari Departemen Keuangan, melainkan lebih disebabkan pelaksanaan repo dari BI. Hingga kini BNI telah memanfaatkan fasilitas repo sebesar Rp500 miliar.

"Kondisi saat ini cenderung membaik. Buktinya kita tidak pernah lagi dipanggil untuk rapat membahas likuiditas. Sedangkan repo nilainya masih kecil dibanding aset kita jadi untuk menghadapi lebaran ini likuiditas BNI dalam kondisi siap," paparnya. (Tomi Sujatmiko/Sindo/ade)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4