Foto: ist
WASHINGTON - Pengetatan kredit yang dilakukan besar-besaran oleh perbankan Amerika Serikat berbuntut panjang. Tujuan awalnya memang untuk mengurangi krisis ekonomi, namun langkah itu justru memukul industri dan meledakan angka pengangguran.
Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) Amerika Serikat mengklaim angka pengangguran meradang hingga 1.000 orang, menjadi 497 ribu orang. Banyaknya pengangguran ini melebihi tragedi serangan teroris yang meruntuhkan Menara WTC atau lebih dikenal dengan tragedi 911.
Banyaknya data pengangguran ini merupakan imbas dari meredupnya sektor industri manufaktur. Departemen Perdagangan (Depdag) Amerika menyatakan, pemesanan pabrikan melemah empat persen, atau lebih parah ketimbang Juli yang hanya 2,5 persen.
Seperti dikutip dari Associated Press (AP) Jumat (3/10/2008), amblesnya sektor industri ini disebabkan oleh penurunan pesanan pesawat terbang hingga 38,1 persen. Pasalnya, pesawat merupakan salah satu komoditi andalan Negeri Paman Sam. Selain produksi burung baja, industri automotif juga merosot 10,6 persen.
Ekonomi yang nyaris masuk jurang resesi ini, merupakan pemicu utama merahnya rapor Amerika. Namun Depdag AS juga mengklaim, Badai Gustav dan Ike ikut andil melemahkan roda sektor industri tersebut.
Bursa Saham Ikut Terpukul
Buruknya data tersebut direspons negatif oleh bursam saham global. Indeks Dow Jones turun 358,08 poin atau 3,26 persen ke posisi 10.477,99, Nasdaq turun 85,63 atau 4,14 persen ke posisi 1.983,77, dan indeks Hang Seng terhempas 213,50 atau 1,88 persen ke posisi 11.154,76.
"Persoalan subprime mortgage dan hentakan sistem keuangan Amerika telah menjadi permasalahan ekonomi dunia. Kejatuhan ekonomi ini akan semakin mendalam dan meluas dari perkiraan pelaku pasar," ujar Chief Executive Ford Alan Mulally seperti dikutip CNBC.com.
(rhs)