Logo Antam. foto: ist
JAKARTA - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berancang-ancang mencari pinjaman senilai USD42,22 juta.
Pinjaman tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai pembelian 10 persen saham di proyek tambang emas Martabe milik Oxiana Ltd.
"Sampai saat ini, kami belum membahas lebih lanjut tentang finalisasi pinjaman proyek tersebut, karena kondisi perusahaan baru aktif hari ini," kata Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Bimo Budi Satriyo, melalui pesan singkatnya kepada okezone, di Jakarta, Senin (6/10/2008).
Sementara itu Public Relation Antam Resna Handayani mengatakan, nantinya akan ada tim khusus yang membicarakan proyek tersebut. Pinjaman senilai USD42,22 juta akan dijajaki dari bank nasional. "Dana tersebut baru estimasi saja," ujar Resna.
Jumlah pinjaman itu merupakan 65 persen dari total dana yang dibutuhkan untuk mengakuisisi 10 persen saham di Martabe senilai USD66,5 juta, atau setara Rp615,1 miliar.
Selebihnya sebanyak 35 persen kemungkinan bisa dipenuhi dari kas internal. Terkait dengan itu, perseroan memiliki opsi untuk memiliki saham di tambang emas tersebut hingga mencapai total 25 persen.
Sebagai informasi, tambang emas Martabe, Sumatra Utara, mampu memproduksi 200.000 ounce emas dan 2 juta ounce perak per tahun. Antam bisa menambah kepemilikan 10 persen saham saat tambang mulai beroperasi dan 5 persen saham saat tambang sudah beroperasi.
Oxiana sejauh ini telah berinvestasi USD310 juta untuk mengembangkan lahan tambang yang berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara ini. Oxiana masuk ke Martabe setelah mengakuisisi Agincourt Resources Ltd dari Newmont Mining Corporation senilai USD415 juta pada Mei 2007.
Kehadirannya di Martabe tidak saja menambah produksi, tetapi juga memperkuat kehadiran Oxiana di Indonesia. Perusahaan itu menilai prospek mineral Indonesia merupakan yang terbaik di kawasan Asia.
Antam terus berupaya mengembangkan proyek Chemical Grade Alumina di Tayan, Kalimantan Barat, yang sempat terbengkalai dengan target konstruksi tahun depan. Perseroan juga sedang sedang berbicara dengan kontraktor terkait kenaikan biaya investasi dari USD250 juta menjadi USD450-500 juta.
(ade)