foto: ist
JAKARTA - Meskipun krisis keuangan sedang melanda di Amerika, namun niatan pemerintah melakukan buy back saham BUMN di pasar modal rupanya tidak goyah.
Pemerintah tetap merencakan buy back dengan catatan melihat bagaimana pengelolaan uang tunai BUMN besar yang telah siap.
Adapun cara tersebut bukanlah merupakan keputusan akhir. Pasalnya, saat ini pihaknya masih terus memantau kondisi di lapangan, artinya semua pilihan masih terbuka.
"Secara teori dan prinsip, buy back akan di jalankan. Namun, harus butuh hasil keputusan RUPS," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil, kepada wartawan di Gedung Depkeu, Jalan Wahidin, Jakarta, Senin (6/10/2008).
Di samping itu, terkait kondisi krisis global saat ini, Sofyan belum mau menjelaskan apakah proses buy back tersebut bisa dipercepat atau tidak. Namun yang pasti, harga saham terus menarik dengan kondisi krisis saat ini.
Diakuinya, saat ini sebagian harga saham BUMN ada yang menguat dengan kondisi krisis seperti ini, tetapi ini antara harga saham dan cash management. "Kalau akses likuiditas mereka bagus mereka diuntungkan, akan tetapi kalau tidak mereka akan batalkan buy back," pungkasnya.
(ade)