JAKARTA - Penutupan pasar valuta asing pada pembukaan selepas libur Lebaran, nilai mata uang rupiah terus terperosok dan mengalami tekanan hingga pada angka Rp9.580 dan nyaris mendekati Rp9.600.
Kondisi rupiah yang terperosok disebabkan banyaknya pelaku pasar yang memburu USD dan termasuk para investor asing.
Analisa tersebut disampaikan pengamat keuangan Fahrial Anwar, saat dihubungi okezone di Jakarta, Senin (6/10/2008). "Rupiah terus terpuruk karena kepanikan pasar yang banyak membeli dolar besar-besar," katanya.
Tren banyaknya orang membeli USD, dilakukan oleh para investor asing yang ramai-ramai menjual saham dan surat utang. Mereka melakukan hal itu disebabkan krisis likuiditas di Negari Paman Sam tersebut.
"Menguatnya USD bukan karena ekonominya yang sedang membaik. Tetapi karena krisis keuangan yang memaksa menjual asetnya mereka diberbagai negara hanya untuk menutupi kebutuhan dan bukan mencari profit," ungkapnya.
Selain itu, sulitnya likuiditas perusahaan-perusahaan asing juga memaksa mereka membeli dolar karena saat ini dunia perbankan sulit memberikan pinjaman akibat banyak perbankan asing yang kolaps. "Dunia perbankan di sana sudah tidak percaya lagi memberikan pinjaman karena krisis yang terjadi," paparnya.
Lebih lanjut, dia menuturkan kondisi rupiah yang terus terpuruk harus segera disikapi pemerintah dengan segera melalui intervensi langsung Bank Indonesia (BI) berupa pengendalian pembelian dolar secara besar-besaran. Pasalnya, saat ini pembelian USD tidak hanya dilakukan perusahaan asing tetapi orang lain yang tidak butuh pun ikut beli.
"BI harus intervensi dan melakukan kontrol pembelian dolar besar-besaran, apakah untuk spekulan atau kebutuhan," tegasnya. Karena tanpa ada pengontrolan hal ini akan membawa dampak negatif pada sektor riil dan moneter.
Dia mengusulkan dengan kondisi seperti ini, BI harus memberikan aturan dan batasan pembelian dolar dengan kisaran USD100 ribu sampai USD200 ribu. "Saat ini orang bebas membeli dolar sampai jutaan hanya untuk spekulasi saja," tandasnya.
(rhs)