Logo BEI. foto: ist
JAKARTA - Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) belum akan menghentikan perdagangan sementara (suspensi) transaksi meski pada perdagangan kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 10 persen.
"Belum, masih kami tinjau perkembangan selanjutnya. Sejauh ini belum ada rencana itu (suspensi)," kata Direktur Utama BEI Erry Firmansyah, saat dihubungi di Jakarta, Senin (6/10/2008).
Menurut Erry, berdasarkan ketentuan, tidak ada batasan hingga penurunan level berapa transaksi saham harus dihentikan. "Secara aturan tidak ada ketentuan angkanya, tergantung hasil pengamatan nanti," katanya.
Hal senada diungkapkan Direktur Pencatatan BEI Eddy Soegito. Menurut dia, BEI tidak akan menghentikan perdagangan sementara transaksi meski IHSG anjlok lebih dari 10 persen. Dia menilai, anjloknya IHSG pada perdagangan kemarin mengikuti bursa regional yang mengalami sentimen negatif di saat transaksi BEI libur.
Eddy mengatakan, tidak suspensinya transaksi perdagangan juga dipicu karena perdagangan kemarin merupakan hari pertama setelah transaksi libur empat hari. "Kita pikir setelah libur empat hari bursa kita bisa save. Tapi ternyata jatuh mengikuti jatuhnya bursa saham global yang sudah jatuh dari beberapa hari sebelumnya," katanya.
Dia mengatakan, anjloknya IHSG yang begitu dalam memang di luar dugaan. Kondisi ini sebagai akumulasi akibat libur empat hari menyusul terkoreksinya bursa kawasan. "Bursa sudah dalam kondisi alert sejak anjlok 10 persen tapi mungkin kita tidak akan melakukan suspensi perdagangan karena hari ini hari pertama perdagangan setelah libur empat hari," katanya.
Begitu halnya dengan Head of Research Batavia Corpindo Suherman Santikno yang mengungkapkan anjloknya IHSG akibat akumulasi. Selain itu hal ini dipicu karena keringnya likuiditas di BEI. Dia juga menengarai ada sejumlah investor baik itu lokal atau asing yang menjual portofolionya dalam jumlah besar keluar dari BEI. Hal ini diikuti oleh investor ritel sehingga terjadi kepanikan (panic selling). "Kemungkinan ada redemption reksadana dari investor institusi," katanya.
Bagi pelaku pasar yang memiliki portofolio jelas Batavia, sebaiknya menahan dulu transaksi (hold), sedangkan bagi yang belum memiliki portofolio sebaiknya memegang uang tunai saja. Dia juga menilai sebaiknya BEI tidak melakukan suspensi perdagangan. Pasalnya, hal ini justru akan memberikan sentimen negatif ke pasar. "Serahkan saja kepada mekanisme pasar," katanya.
Sementara Head Research Recapital Securities Poltak Hotradero menyatakan, penurunan tajam IHSG kemungkinan memang akumulasi karena pekan lalu BEI libur akibat sentimen negatif krisis AS yang baru terefleksi hari ini. "Ada sesuatu yang terjadi pada hari ini. Soal bailout mungkin sudah diatur penanggulangannya. Namun sekarang mengemuka masalah di perbankan Eropa yaitu penyelamatan Bank terbesar di Jerman Hypo Real Estatte oleh pemerintah Jerman," kata Poltak.
Pada perdagangan hari ini IHSG terjun hingga 183,768 poin (10,03 persen) ke level 1.648,739 poin. Frekuensi tercatat 64.702 kali dengan volume 3,246 miliar senilai 3,693 triliun.
IHSG mengalami penurunan tajam karena imbas krisis di AS, pelemahan rupiah yang tidak terbendung ke level Rp9.575 per dolar AS dan naiknya angka inflasi September menjadi 0,97 persen dibanding Agustus 0,51 persen.
Pada perdagangan hari ini pun 15 saham juga mengalami suspensi otomatis (autoreject) seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indotambang Raya Megah Tbk (ITMG), PT Bakrie Brothers (BNBR), PT Bakrie Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
(Whisnu Bagus /Sindo/ade)