Rizal Ramli (Foto: ist)
JAKARTA - Langkah menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dinilai tidak tepat. Sebab yang terjadi saat ini adalah kelangkaan likuiditas.
"Sekarang BI malah mengikuti IMF untuk menaikkan suku bunga. Jadi Indonesia satu-satunya negara yang manut dengan IMF. Padahal seluruh dunia menurunkan tingkat bunga, karena sekarang telah terjadi kelangkaan likuiditas di dunia internasional," ujar ekonom yang juga Ketua Komite Bangkit Indonesia (KBI) Rizal Ramli, saat jumpa pers bersama Fraksi PDIP, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (10/10/2008).
Selasa 7 Oktober lalu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan untuk menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 9,5 persen. Padahal bank sentral di berbagai dunia umumnya memangkas suku bunganya, seperti yang dilakukan The Federal Reserve, Bank of England, dan Europe Central Bank.
Rizal juga mendesak pemerintah untuk keluar dari paradigma yang dibentuk Dana Moneter Internasional (IMF). Pemerintahan Presiden SBY juga diminta mencari jalan lain untuk menyelesaikan krisis, seperti dengan melakukan pengawasan modal (capital control).
"Jadi solusinya bukan dengan naikkan suku bunga, tapi harus keluar dari paradigma IMF. Harus cari cara lain, mungkin capital control," tegas dia.
Mantan menteri perekonomian ini era pemerintahan Abdurrahman Wahid ini juga mengaku telah mengingatkan pemerintah mengenai gelembung ekonomi. Wanti-wanti itu disampaikan Rizal kepada Boediono dan Sri Mulyani pada Januari 2008 lalu.
"Kami telah mengatakan bahwa ada gelembung finansial dalam ekonomi Indonesia. Jadi harus hati-hati, kalau tidak terjadi krisis ekononmi jilid dua," akunya.
"Kami dulu satu-satunya ekonom yang pada akhir tahun 1996 meramalkan akan ada krisis pada 1997. Tapi saat itu dibantah oleh menterinya Soeharto. Sekarang juga dibantah oleh Boediono dan Sri Mulyani," tambah Rizal.
(jri)