kolom ekonomi


Jangan Panik, Tetap Gunakan Kesempatan!

Jum'at, 10 Oktober 2008 - 10:04 wib
text TEXT SIZE :  

Setelah mengecap masa indah kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level tertinggi 2.830, investor pasar modal kini harus menghadapi kenyataan pahit.

Bagaimana tidak, mengingat IHSG kini berada di posisi 1.451, turun 51 persen dari rekor tertinggi yang tercatat di awal tahun. Kejatuhan indeks ini membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan saham pada 8 Oktober 2008 pukul 11.00 waktu perdagangan bursa.

Ini pertama kalinya otoritas menghentikan perdagangan di luar alasan force majeur. Penurunan indeks yang cukup tajam, yang berujung pada penutupan perdagangan BEI adalah imbas dari krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat (AS).

Bila ditelisik, krisis ini bermula sejak AS melakukan aktivitas agresi militer ke Afghanistan dan Irak, di mana semua pendanaan negara terfokus ke perang tersebut. Setelah itu terjadi krisis subprime mortgage yang menimpa sektor perumahan dan menyeret perbankan ke kredit macet.

Pemerintah kemudian berupaya melakukan penyelamatan dengan menurunkan suku bunga the Fed. Namun, hal itu berdampak sementara. Kredit macet perumahan tersebut akhirnya melibas dua nama besar di sektor finansial, Merrill Lynch dan Lehman Brothers.

Saat itulah Pemerintah AS menyadari bahwa krisis tersebut sudah tidak dapat dibendung, dan meminta Kongres AS menyetujui dana talangan USD700 miliar untuk menolong sektor keuangan. Namun, langkah tersebut sudah terlambat karena kepanikan di pasar modal sudah melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Beberapa institusi di dalam negeri telah mengakui memiliki portofolio investasi di Amerika. Nah, yang harus kita lakukan adalah bagaimana menghadapi situasi seperti ini. Mungkin Anda sedang bertanya-tanya, apakah harus menjual semua portofolio dalam waktu sekaligus atau ditahan sampai kondisi normal kembali, yang belum diketahui kapan.

Sebenarnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu menahan portofolio saham kita di pasar modal, mengurangi portofolionya, atau melakukan pembelian kembali. Menahan portofolio adalah membiarkan saham kita mengendap dan kita mengalihkan ke investasi lain selain saham.

Mengurangi portofolio artinya menjual saham tersebut di harga yang telah terkoreksi cukup dalam, di mana kerugian yang cukup besar akan muncul. Sementara melakukan pembelian kembali adalah dengan cara mengakumulasi saham ketika harga turun (average down).

Kembali ke penjelasan di atas, pada saat indeks di 2.830, berapa harga saham yang Anda miliki, kemudian bandingkan pada saat penutupan BEI kemarin di level 1.451. Angka di level atas dapat Anda jadikan sebagai resistance dan angka pada level bawah dapat Anda jadikan level support.

Dengan asumsi harga minuman teh dalam kemasan botol, Anda dapat memulai koleksi saham yang memiliki fundamental kuat dengan harga di bawah harga minuman tersebut. Penjelasan ini berguna karena dengan koreksi IHSG yang cukup tajam membuat pilihan saham menjadi bervariasi.

Saat pasar sedang dalam kondisi seperti ini, biasanya muncul saham-saham yang bernilai kecil, tetapi tiba-tiba aktif diperdagangkan. Saya tidak menyarankan tetapi juga tidak melarang karena tipe saham seperti ini disenangi speculative buyer.

Namun, untuk yang bertujuan investasi jangka menengah atau panjang, sebaiknya saham dengan fundamental yang kuat dan harga sudah terkoreksi dalam menjadi pilihan yang sangat cocok. Perlu diingat bahwa beberapa saham blue chips yang telah terkoreksi cukup dalam mempunyai kans paling besar untuk rebound, hal ini karena saham-saham tersebut berperan penting dalam kenaikan indeks.

Sebut saja saham telekomunikasi seperti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT). Sementara dari sektor pertambangan ada PT Aneka Tambang dan PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) yang sangat prospektif.

Di samping itu PT Perusahaan Gas Negara, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Bank Mandiri (BMRI) juga dapat menjadi pilihan menarik di masing-masing sektor. Saat ini, langkah yang harus ditempuh pemerintah setelah perdagangan di BEI dihentikan adalah menjelaskan kepada masyarakat secara transparan tentang dampak yang dapat timbul dari krisis di AS, baik dampak langsung maupun tidak langsung.

Pernyataan yang menenangkan masyarakat tidak berpengaruh apabila langkah yang ditempuh pemerintah tidak konkret dalam menghadapi krisis tersebut. Meski Bank Indonesia telah menaikkan BI rate menjadi 9,5 persen dan pemerintah telah meminta BUMN untuk mengatasi hal ini dengan melakukan buy back sebagai langkah awal, ada baiknya swasta juga dilibatkan untuk bahu membahu bersama.

Indonesia dapat menuai krisis AS itu dari pasar modal, sebab perlu disadari bahwa pasar modal memiliki afiliasi ke instrumen lain seperti reksa dana dan obligasi. Karena itu, likuiditas pasar modal dan kinerja IHSG perlu dijaga karena merupakan tolok ukur pemerintah dalam mendapatkan kepercayaan asing, peningkatan Investasi, dan sebagainya.

Untuk sektor perbankan sendiri, dengan kenaikan BI Rate, bank akan menaikkan suku bunga kredit ke korporasi maupun konsumen. Untuk itu, perlu dicermati potensi terjadinya kredit macet pada sektor pembiayaan, otomotif, dan sektor lain yang akan terkena imbas dari kenaikan suku bunga kredit perbankan.

Jadi, pemerintah sebaiknya perlu menenangkan masyarakat pada umumnya dan para investor untuk tetap yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup stabil dan prospektif. Perlu diingat, di balik sejumlah kabar negatif, terdapat kabar positif bagi Pemerintah Indonesia. Turunnya harga minyak dunia ke level USD86-USD88 per barel akan membuat beban subsidi pemerintah semakin rendah. (*)

N Jaganathan
Pengamat Pasar Modal

(//mbs)