Wall Street foto:Reuters.com
TOKYO - Penurunan bursa di Wall Street dan meluasnya krisis ekuitas global, mengakibatkan saham-saham Asia anjlok drastis.
Seperti dilansir dari AP, Jumat (10/10/2008), indeks Nikkei 225 di Jepang turun lebih dari 10 persen. "Penjualan tidak dapat dihentikan di New York dan Tokyo. Investor masih takut," kata Senior Strategis Shinkko Securities di Tokyo, Yutaka Miura.
Sementara di Hong Kong, indeks turun lebih dari 8 persen, indeks Kospi Korsel bertahan sebesar 7,4 persen, indeks Shanghai turun 4,1 persen, dan indeks Strait Times Singapura turun tujuh persen. Sedangkan di Sydney, S&P/ASX200 turun 6,8 persen.
Saham-saham regional pun turun mengikuti kejatuhan Dow Jones sebesar 7,3 persen pada Kamis kemarin. Penurunan hingga di bawah level 9.000 itu merupakan yang pertama kalinya dalam kurun waktu lima tahun.
Hal tersebut dipicu oleh keputusan lembaga pemeringkat yang akan menurunkan peringkat General Motor dan Ford Motor.
Penurunan Dow Jones yang terjadi dalam tujuh hari terakhir sebesar 20,9 persen merupakan penurunan terbesar sejak 26 Oktober 1987. Di mana Dow Jones turun 23,8 persen. Peristiwa itu dikenal sebagai Black Monday, di mana saat itu Dow Jones turun 23 persen dalam satu hari.
Di samping itu, Miura mengatakan, kejatuhan di pasar keuangan global menunjukkan kebingungan dan ketidakpastian antara investor dunia. Pasar Asia jatuh seiring rencana pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara G7 di Washington, AS.
"Investor tidak yakin bahwa penngumuman G7 efektif untuk mengurangi tekanan krisis," kata Miura.
Di sisi lain, Direktur dari Macquarie Equities di Sydney Luchinda Chan, mengatakan bahwa kondisi pasar telah mengerikan. "Pergerakan pasar sangat berbeda dan tidak dapat diprediksi. Adanya pertumbuhan menjadi pertimbangan terbesar di pasar dan kenapa pasar Australia sensitif karena kami adalah negara pengekspor komoditas," katanya.
(ade)