ekonomi global


Menanti Langkah Baru dari Negara Kaya

Jum'at, 10 Oktober 2008 - 13:37 wib
text TEXT SIZE :  
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Capitol Hill (AFP)

JAKARTA - Serangkaian kebijakan telah dilakukan banyak negara untuk mengatasi krisis. Dari dana talangan, penyuntikan likuiditas, hingga pemangkasan suku bunga. Namun hingga kini pasar modal dan pasar keuangan masih saja kacau balau.

Para pejabat keuangan dari negara-negara kaya yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G-7) hari ini, Jumat (10/10/2008), dijadwalkan bertemu di Washington. Meski belum jelas apa yang akan dihasilkan dari pertemuan itu, namun setidaknya pasar masih berharap ada terobosan baru untuk memulihkan kepercayaan.

Pemangkasan suku bunga oleh banyak negara maupun kebijakan dana talangan sejauh ini masih belum bisa memadamkan kepanikan di pasar. Dow Jones, misalnya, kemarin terpuruk hingga di bawah 9.000 untuk pertama kalinya semenjak 2003.

"Pengambil kebijakan dunia saat ini tengah menghadapi tembok. Tidak ada tempat untuk berlari, tidak ada tempat untuk bersembunyi," kata Marco Annuziata, kepala ekonom pada Unicredit MIB di London.

"Jangan meremehkan seberapa keras mereka akan bertarung saat ini," imbuhnya, dikutip dari Bloomberg.

Anggota Kelompok Tujuh adalah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Kanada, dan Italia. Pertemuan akan digelar pukul 18.00 waktu Washington.

Keesokan harinya, pertemuan akan melibatkan para menteri dari negara-negara yang tengah tumbuh pesat, seperti Brasil, Rusia, India, dan China.

Diharapkan ada strategi bersama yang terkonsolidasi untuk menghadapi krisis yang terus bergerak liar ini.

Presiden Amerika Serikat George W Bush juga dijadwalkan bertemu dengan para menteri G-7

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) bersama Forum Stabilitas Keuangan menggelar pembicaraan darurat kemarin, dan diikuti pejabat dari 27 negara. Pembicaraan mendiskusikan respons terhadap turbulensi keuangan, seperti yang pernah dilakukan pendahulunya, Bill Clinton, saat terjadi krisis keuangan 1998. (jri)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4