Mendag Mari Elka Pangestu. foto: Sindo
JAKARTA - Membanjirnya produk impor bisa melemahkan produk dalam negeri. Untuk itu, setiap negara melakukan proteksionisme dalam mengamankan produknya.
Namun, proteksionisme yang berlebihan bisa menyebabkan perdagangan antarnegara terganggu. Akibatnya, resesi ekonomi global akan terus berlanjut.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, perang proteksionisme antarnegara bisa terjadi, seperti pada tahun 1930-an, jika tidak ada kesepakatan dan penegasan aturan main.
Indonesia, bersama anggota APEC berharap tidak terjadi perang dagang. Hal ini tertuang pada pembahasan tingkat menteri di Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di Lima, Peru pada Kamis (20/11/2008).
"Masing-masing negara kondisinya beda, kita harus cegah proteksionisme," kata Mari, saat melakukan telekonferensi dari Peru dengan wartawan, di Gedung Depdag, Jakarta, Kamis (20/11/2008).
Dalam pembahasan itu, anggota tetap akan mengamankan pasar dalam negeri tapi sesuai aturan WTO, seperti melarang impor tanpa alasan jelas.
"Meski Indonesia menerapkan instrumen fiskal dan stimulus produk dalam negeri, Indonesia tetap akan mencegah langkah penolakan impor yang mendadak dan tanpa alasan jelas," jelasnya.
Meski demikian, Indonesia bersama negara G20 akan mengamankan pasar dalam negeri sesuai aturan WTO. Indonesia pun berniat tetap mengamankan pasar dalam negeri dari membanjirnya produk impor. Pemerintah memastikan bahwa kebijakan tersebut akan sesuai koridor WTO.
Mari bersama 21 menteri negara lain mengikuti pertemuan APEC pada tingkat menteri di Lima, Peru. Pertemuan ke 20 ini sebagai persiapan Pertetemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC tanggal 22 sampai 23 November mendatang.
Di pertemuan ini, anggota sepakat untuk mencegah kebijakan perdagangan yang mendadak dan tidak beralasan. "Seperti melarang impor tanpa alasan jelas," tambahnya.
Jika satu negara menambah tarif bea masuk (BM) maka negara lain juga akan menambah tarif BM. Akibatnya resesi bertambah. (ade)