foto: Sindo
JAKARTA - PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) hingga 2013 memiliki empat proyek pengembangan, salah satunya membentuk perusahaan patungan di bidang perkeretaapian dengan PT Kereta Api (PT KA).
Kerja sama tersebut dilaksanakan mulai semester kedua 2008 dalam hal penyediaan kereta api eksisting (TE-Pelabuhan Tarahan dan TE-Pelabuhan Kertapati). "Kami targetkan pembentukan perusahaan patungan antara PTBA-PTKA pada semester kedua 2008. Pembahasan konsensi antara Departemen Perhubungan dengan PTKA," ujar Corporate Secretary PTBA Eko Budhiwijayanto, dalam laporan materi public expose PTBA, di keterbukaan infomasi BEI, Jumat (21/11/2008).
Para pihak yang terkait, yakni PTBA dengan share 30 persen dan PTKA 70 persen. Nilai investasi proyek ini yakni USD694 juta sebesar 30 persen saham dan 70 persennya berupa utang dari perusahaan patungan.
Proyek kereta eksisting ini berkapasitas 20 juta ton per tahun pada 2013, dan akan naik secara bertahap dengan target pada tahun pertama naik 28 persen menjadi 10,3 juta ton.
Proyek kedua yakni pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Banjarsari berkapasitas 2x100 MW berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. "Saat ini masih dalam proses negosiasi ulang tarif listrik (power purchase agreement) dengan PT Perusahaan Listrik Negara. Targetnya beroperasi pada 2011, waktu yang dibutuhkan untuk negosiasi tarif listrik tergantung dengan PLN," ujar Eko.
Pada proyek ini Bukit Asam berkontribusi 41 persen, sisanya dua perusahaan lain. Kebutuhan batu bara sebanyak satu juta ton per tahun (kalori rendah), yang dipasok oleh PTBA.
Proyek ketiga yakni PLTU Mulut Tambang Banko Tengah berkapasitas 4x600 MW berlokasi di Tanjung Enim. Pihak yang terlibat PTBA, China Huadian Corp, PLN, Truba, dan pemerintah lokal. Untuk proyek ini memerlukan batu bara 10-12 juta ton per tahun berkalori rendah, dan rencananya beroperasi pada 2013.
"Waktu yang dibutuhkan untuk negosiasi tarif listrik tergantung dengan PLN. Pendanaan proyek sehubungan dengan ketatnya likuiditas dan krisis ekonomi global," kata Eko.
Sementara untuk proyek keempat yakni proyek kereta api baru di Tanjung Enim-Pelabuhan Baru Tarahan berkapasitas 20 juta ton per tahun. "Perusahaan patungan telah dibentuk, saat ini dalam proses mendapatkan ijin dari pemerintah yakni departemen perhubungan, dan ditargetkan beroperasi pada 2013," kata Eko.
Para pihak yang terkait yakni PTBA, Transpacific Railway Infrastructure, China Railway Engineering. "Pendanaan proyek terkendala dengan ketatnya likuiditas dan krisis ekonomi global," tuturnya.(ade)