Saham dan Valas


Jangan Tunggu Hari Anggaran

Sabtu, 22 November 2008 - 09:29 wib
text TEXT SIZE :  
Share

Berbagai institusi keuangan dan bisnis telah berhenti meminta dana talangan. Namun, bukan berarti mereka kini aman dari dampak krisis pasar saham global saat ini yang telah membuat ratusan perusahaan bangkrut di penjuru dunia.

Menteri Keuangan Singapura Tharman Shanmugaratnam telah menekankan bahwa anggaran yang ke depan akan fokus membantu pengusaha mengatasi masalah biaya dan kelancaran kas perusahaan serta mendukung mereka untuk tetap kompetitif.

Namun, banyak yang mendesak pemerintah Singapura agar bertindak saat ini dan tidak menunggu hingga hari anggaran pada Februari untuk mengumumkan paket stimulan. Langkah segera yang dapat diambil pemerintah ialah mengurangi dampak pajak barang dan jasa (GST) serta menurunkan biaya usaha.

Seorang pengusaha mengatakan," Akan lebih mahal jika Anda harus merawat seorang pasien di ICU (intensive care unit) daripada saat dia pertama kali menderita demam. Yang lebih parah, tidak ada gunanya menyadarkan seorang pasien saat dia telah mati."

Dia juga menekankan bahwa banyak negara,termasuk Malaysia dan China,telah bertindak dengan mengeluarkan paket stimulus. Sebagian analis telah memprediksi kecenderungan negatif ekonomi Singapura tahun depan.Morgan Stanley memperkirakan gross domestic product (GDP) merosot hingga 2 persen pada tahun depan. Sementara menurut Kit Wei Zheng dari Citigroup, ekonomi akan menyusut 1,2 persen.

Sejumlah indikasi terlihat pada institusi keuangan terbesar di Singapura, DBS Bank, yang melaporkan bahwa pendapatan bersih pada kuartal ketiga 2008 merosot 38 persen sebesar 379 juta dolar Singapura dibandingkan satu tahun silam. Ini diikuti pengumuman bahwa DBS Bank telah mengurangi 900 tenaga kerjanya di Singapura dan Hong Kong.

"Itu termasuk restrukturisasi perusahaan,proses pengadilan, dan likuidasi dari berbagai perusahaan bermasalah," ungkap Tim Reid, auditor perusahaan Ferrier Hodgson. Pendapat Reid itu didukung mantan mitra KPMG Neo Ban Chuan yang membentuk kerja sama dengan perusahaan Australia KordaMentha untuk mendirikan KordaMentha-Neo.

"Ini bukan sesuatu untuk direnungkan, melainkan waktu untuk membuka kantor kami tidak menemukan saat yang tepat," ujar Neo. Setelah bertahun-tahun tidak disiplin dan kehilangan kontrol kredit, perbankan dan institusi keuangan lainnya mengalami situasi sulit dan sangat khawatir mereka tidak dapat memberi pinjaman meskipun pada konsumen yang layak mendapat kredit dan menguntungkan.

"Mereka tidak lagi saling meminjami dana," papar seorang mantan bankir. Surat kabar The Business Times melaporkan, banyak pengusaha yang saat ini kesulitan memperoleh letters of credit (LC) dengan berbagai alasan.Platform pembayaran global, Swift, melaporkan bahwa saat ini merupakan sembilan bulan pertama tahun ini, ketika terjadi penurunan jumlah LC sebesar 30 persen sejak tahun lalu.

Sementara itu, pemerintah Singapura mendesak perbankan untuk terus memberikan pinjaman. Seruan ini tampaknya tidak terlalu mereka gubris. Seorang pengusaha mengeluhkan kreditnya ditolak bank hanya beberapa saat setelah mesin untuk pabriknya tiba. "Sekarang dari mana saya mendapatkan uang untuk membayar mesin-mesin itu? Tidak satu pun bank yang bersedia memberi pinjaman," paparnya.

Dia bukan satu-satunya orang yang mengalami kejadian tersebut.Banyak pengusaha yang mengaku kredit mereka dibatalkan atau ditarik lagi oleh bank.Meskipun awalnya kredit itu disetujui, bank kemudian bereaksi negatif dengan dugaan bahwa pengusaha itu tidak mampu memproduksi barang dan menyuplai konsumennya dengan barang karena krisis.

Karena itu pula, pengusaha tidak memiliki barang apa pun untuk dijual pada konsumen mereka. Kalaupun ada pengusaha yang mendapatkan kredit, mereka harus membayar mahal untuk itu.

"Sejumlah bank menetapkan bunga 3,4 persen di atas bunga normal sehingga membuat kami kalah bersaing dalam lingkungan yang lebih kompetitif," keluh seorang peminjam kredit bank.

Sementara di sisi lain,harga bahan baku dan biaya lain, termasuk harga bahan bakar minyak dan biaya keseluruhan bisnis, tetap tinggi. "Kami berharap semua biaya, termasuk biaya peminjaman dan pajak, bisa turun. Pemerintah saat ini mungkin harus mengurangi sejumlah pajak seperti GST dan pajak properti serta menurunkan sejumlah retribusi lainnya," ungkap seorang pengembang properti utama.

Dia juga berharap pemerintah Singapura bertindak saat ini. "Biaya yang harus ditanggung berbagai perusahaan mungkin terlalu tinggi.Jika terus seperti itu, setiap pengusaha akan bangkrut," katanya. Sebaliknya, pengusaha kapitalis Gary Loh berpikir, sikap pemerintah Singapura untuk menunggu dan melihat mungkin menjadi pendekatan terbaik.

"Singkatnya, pemerintah perlu mempelajari perbedaan kebutuhan perusahaan skala kecil dan menengah serta perusahaan besar. Mereka juga harus memperhitungkan kebutuhan ekonomi dan populasi secara keseluruhan," tuturnya.

Loh yang menjadi pemimpin eksekutif perusahaan saham swasta First Alverstone Partners dan memimpin perusahaan peralatan rumah tangga Friven serta produser sayuran SunMoon menyatakan, krisis kredit saat ini berdampak pada seluruh perusahaan.

"Ini membuat bisnis sederhana menjadi lebih kompleks," kata pemimpin perusahaan yang terdaftar di Bursa Saham Singapura itu. Namun, seperti yang dikatakan Neo, sektor bisnis terkena tekanan dari berbagai arah. Dampak dari krisis itu, penjualan menurun karena permintaan juga menurun. Lalu, berbagai perusahaan itu mengalami kesulitan pendapatan dan menuju kebangkrutan.

Masalah likuiditas menyebabkan masalah lainnya dan perusahaan akan kesulitan menjaga bisnis mereka tetap berjalan atau pun berekspansi." Selain harus memecat banyak orang, mereka juga harus mengurangi biaya pengeluaran," papar Neo.

"Perusahaan dapat membantu diri mereka sendiri dengan fokus pada bisnis inti mereka dan tidak melakukan diversifikasi ke seluruh sektor yang menjanjikan keuntungan tinggi namun juga berisiko besar," kata Neo dan Loh. Yang saat ini terjadi di Singapura ketika krisis ialah sebagian besar perusahaan dalam posisi yang lebih baik untuk menghadapi situasi meskipun institusi keuangan terus berbenah.

"Lalu, bagi perusahaan yang memerlukan bantuan, Singapura sangat uni di kawasan, dengan undangundang yang sangat efektif untuk melindungi perusahaan dalam krisis keuangan. Di sana akan ada mekanisme untuk membantu perusahaan keluar dari masalah keuangan mereka,"papar Reid.

Dia juga menyerukan agar institusi keuangan melakukan pengkajian dan mempertimbangkan pendekatan mereka dengan klien perusahaan mereka."Perbankan harus melanjutkan memberi pinjaman dan menetapkan tingkat bunga yang masuk akal," ujar Neo.

Presiden Kamar Dagang dan Industri Singapura China sekaligus pengembang properti Chua Thian Poh menegaskan, "Warga Singapura harus bersatu untuk saling membantu menghadapi krisis keuangan ini dan jangan khawatir serta kehilangan percaya diri." (*)

Conrad Raj
conrad@mediacorp.com.
(//rhs)

Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini lewat http://m.okezone.com
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad 
Share
o1 o2

Berita Lain

o3 o4