(Foto: Corbis)
JAKARTA - Para pelaku pasar valuta asing di pasar spot antarbank pada perdagangan Rabu (7/1/2009) ini akan melakukan aksi wait and see kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan tingkat suku bunga.
Pengamat Pasar Valuta Asing BNI Securities Rahmat Wibisono memperkirakan, perdagangan pembukaan pasar valas pagi ini, rupiah masih akan bergerak seperti sebelumnya di kisaran Rp10.800-11.200 per USD.
Karena, sejauh ini market belum melihat adanya sentimen dan upaya perubahan yang signifikan. Pasalnya, BI diproyeksikan hanya akan menurunkan tingkatan BI rate sebesar 25 basis poin
"Kita berharap penurunan BI rate tidak lagi 25 basis poin, tetapi 50 basis poin. Jika benar ini dilakukan maka akan direspons positif oleh pasar," ungkapnya saat dihubungi okezone, di Jakarta, Rabu (7/1/2008).
Lebih lanjut dia mengatakan, penurunan BI rate yang kecil pada dasarnya tidak akan merubah pergerakan terlalu besar. Pergerakan rupiah yang selama ini hanya di kisaran Rp10.000-Rp11.200 per USD, merupakan bukti bahwa rupiah masih mencari arah di saat kondisi relatif normal seperti sekarang ini. Rupiah menurutnya belum akan mengalami penguatan yang berarti.
Menurutnya, inti dari persoalan yang dihadapi pasar valuta asing adalah bagaimana ketatnya likuiditas keuangan global bisa dikendorkan, bilamana sudah terjadi perubahan ekonomi dari Amerika.
"Pasar tidak akan terpengaruh terhadap pemerintahan yang baru di Amerika nanti. Karena yang ditunggu pasar adalah kebijakan ekonomi apa yang akan dilakukan pemerintahan Amerika yang baru. Kebijakan bailout belum terasa oleh pasar dan tidak mampu mengimbangi ekonomi negara-negara lain," paparnya.
Sekadar diketahui, rupiah pada perdagangan Selasa 6 Januari kemarin tidak beranjak dari posisi penutupan perdagangan rupiah sebelumnya. Rupiah masih bertahan di posisi Rp11.000-Rp11.150 per USD. Padahal, rupiah pada awal perdagangan pertama sempat menguat ke level Rp10.950 per USD.
(rhs)
Dapatkan okezone launcher untuk BlackBerry http://bb.okezone.com/okezone.jad