Logo ADB. Foto: Corbis
NUSA DUA - Para perwakilan serikat buruh internasional yang menghadiri Sidang Tahunan Asian Development Bank (ADB) mendesak kuat pembentukan desk khusus yang menangani perburuhan (labor desk) di ADB. Kehadiran desk tersebut ditujukan untuk membantu memastikan standar-standar bagi buruh dapat diawasi dalam seluruh proyek-proyek ADB.
Serikat buruh internasional, yang dimotori oleh Public Services International (PSI), Building and Wood Workers International (BWI), dan Union Network International (UNI) bertemu dengan perwakilan ADB dalam sebuah forum yang digelar Minggu kemarin. Forum tersebut mendiskusikan dampak krisis ekonomi dan keuangan global terhadap para pekerja.
"Di saat para pekerja di seluruh dunia berada di antara korban terburuk dari krisis dan korban dari keputusan pembangunan yang salah yang telah dianggarkan oleh ADB, sejauh ini isu-isu perburuhan tidak disebutkan dalam forum-forum Dewan Gubernur ADB yang membahas krisis global," kata perwakilan kawasan BWI, Ambet Yuson, dikutip dari pernyataan tertulisnya, Senin (4/5/2009).
Menurut dia, langkah ADB mengucurkan dana pinjaman senilai USD10 miliar ke negara-negara berkembang Asia dalam dua tahun mendatang, menurut dia, bakal menghadapi kegagalan. Dana itu tidak akan mampu menolong 20 juta pekerja yang akan kehilangan pekerjaannya di Asia. Kalangan buruh berpendapat, dana paket stimulus di negara-negara berkembang lebih cenderung ditujukan untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan, namun tidak membantu para pekerja dan keluarganya.
Menanggapi itu, Direktur Jenderal Departemen Kawasan dan Pembangunan Berkelanjutan ADB Xianbin Yao mengatakan, ADB ditujukan untuk membantu pemerintah dan sektor swasta, tidak hanya untuk memulihkan daya beli dan meningkatkan investasi, namun juga lebih penting untuk meningkatkan belanja jaring pengaman sosial untuk membantu kelompok-kelompok yang rentan terkena dampak krisis.(ade)