Foto: Koran SI
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) sering meleset, salah satunya soal pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Dari awal, Menkeu sudah menduga, IMF akan merevisi prediksinya atas laju pereekonomian Indonesia sebesar 2,5 persen.
"Memang kalau IMF cuma datang setahun sekali (ke Indonesia) sering salah (memprediksi)," kata dia, di kantornya, Jakarta, Senin (8/6/2009).
IMF akhir pekan lalu mengumumkan prediksi terbaru pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 3-4 persen.
Semula, Sri Mulyani mengatakan, IMF menganggap tingkat konsumsi domestik Indonesia rendah sehingga pertumbuhan tahun ini diperkirakan hanya bisa melaju sekitar 2,5 persen. Kenyataannya, IMF salah memprediksi karena konsumsi domestik Indonesia relatif kuat, terdorong beberapa faktor di dalam negeri.
Misalnya, Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif lalu dan Presiden, 8 Juli mendatang. Ada juga dampak turunan dari koreksi harga bahan bakar minyak (BBM) selama Januari sampai Maret.
Selain melihat kondisi domestik Indonesia yang cukup kuat, alasan IMF merevisi prediksinya adalah tingginya pertumbuhan ekonomi China. Laju perekonomian China, ujar Sri Mulyani, berdampak positif terhadap pertumbuhan Indonesia. "Itu akan menetralisasi kontraksi ekspor agar tidak terlalu dalam," kata dia.
Sejalan dengan ini, Menkeu memperkirakan, kontraksi pertumbuhan ekspor pada kuartal I-2009 sebesar 19 persen akan mengecil pada kuartal II dan III-2009.
IMF, lanjut pelaksana jabatan Menko Perekonomian ini, memandang terlalu berlebihan atas dampak krisis ekonomi global terhadap Indonesia. "Tentu karena mereka melihat kondisi kawasan Asia Tenggara merosot sangat tajam sehingga menganggap Indonesia tidak terkecuali. Ternyata tidak," paparnya.(Meutia Rahmi /Koran SI/rhs)