o1 o2

Economy - ekonomi


Merek Fashion Outsourcing Dapat Gunakan Label UE

Jum'at, 19 Juni 2009 - 09:15 wib
text TEXT SIZE :  
Foto: treehugger.com

ALBANIA - Dunia mode banyak yang mengetahui kiprah Gjirokaster, kota kecil di Albania. Namun, jika Anda hanya melihat label yang tertera di baju yang dijual di toko, sulit melihat kiprah kota tersebut.

Pemilik industri tekstil Blerza Kallajnxhi memasang label Made in EU (Buatan Uni Eropa/UE) di sebuah pabrik di Gjirokaster Albania. Dia sedang mengerjakan pesanan dari luar negeri. "Kita mendapat pesanan dari Yunani. Mereka mengirimkan bahan, model, dan label," kata Kallajnxhi.

Yunani adalah salah satu dari 16 negara anggota UE, tidak seperti Albania. Di mata konsumen, buatan Eropa dipandang lebih berkualitas dibandingkan produksi China, Bangladesh, atau Thailand. Padahal, banyak perusahaan fesyen terkemuka dari negara maju memproduksi barangnya di tiga negara ini. Namun,kita sangat tahu arti dari Made in Europe. "Tidak disebutkan Made in Albania," ujar Kallajnxhi, seperti dikutip dari Reuters.

"Tentu, kami bangga dengan negara kami, tapi inilah yang diinginkan klien kita," katanya. Pemilik merek global tidak melakukan tindakan ilegal jika menggunakan strategi ini. Berdasarkan aturan UE, mengaburkan informasi bagi konsumen, barang yang diproduksi di lebih dari dua negara, bisa diinformasikan berasal dari satu negara.

Cara ini secara ekonomi dibenarkan. Ini celah hukum yang membantu pemotongan biaya dan saat krisis inilah yang harus dilakukan, apalagi permintaan anjlok sejak September lalu.

Perusahaan fesyen UE secara umum tidak menginformasikan jaringan pasokan. "Kita tidak diwajibkan untuk melabeli produk kita dengan Made in Bosnia," ujarnya.

"Konsumen bisa mendapatkan informasi tersebut dengan membaca nomor registrasi yang dijahitkan di pakaian," papar Vice Chairman Ahlers AG Jan Ahlers.

Ahlers memproduksi pakaian Pierre Cardin di Bosnia. Label Pierre Cardin merupakan hak eksklusif di Jerman, Austria, Swiss, dan Yugoslavia. Beberapa konsumen menginginkan transparansi dimana suatu produk diproduksi. Sementara beberapa perusahaan fesyen yang memproduksi pakaian mewah menilai outsourcing sebagai ancaman.

"Riset menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen kepada peritel adalah penting," papar pendiri Ethical Fashion Forum Josie Nicholson. "Informasi yang jelas dan jujur pada label adalah cara terbaik bagi peritel untuk memenangkan keyakinan konsumen," ungkapnya.

Gaji pekerja tekstil di Gjirokaster 170 euro per bulan (USD235), sementara di Eurostat menginformasikan gaji di UE rata-rata 2. 500 euro per bulan.

Pabrik di Balkan juga menjadi kompetitor Asia karena biaya transpor ke pasar Eropa sangat kecil dan lebih cepat. Di Travnik,Bosnia,pabrik Borac memproduksi pakaian berlabel Hugo Boss, Pierre Cardin, dan Burberry. Di Bitola, Macedonia, Pelister menjahit pakaian berlabel Mango and Zara.

"Kami tidak keberatan tidak tercantum dalam label asal dibayar dengan baik," kata General Manager Borac Mustafa Sefer.

Juru Bicara Marks & Spencer mengatakan, "Kami memproduksi sejumlah sepatu di Macedonia. Kita selalu menginformasikan asal produksi di label kami," ungkapnya.

"Bahan baku, gambar,dan blueprints dimasukkan ke negara ini dalam kontainer yang disegel dan dikirim dalam kontainer yang tersegel saat meninggalkan negara. Jadi di sini hanya merakit," jelas Svetlana Zivkovic, kuasa hukum produsen pakaian di Serbia.

Banyak perusahaan pakaian di Balkan enggan membicarakan pesanan dari pemilik label besar. "Setelah menyelesaikan pesanan, kami menuliskan label yang netral tanpa menyebutkan madein," jelas pemilik pabrik Pelister Dimitar Stojanov. (Achmad Senoadi/Koran SI/rhs)

 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?
Share
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini di http://m.okezone.com
o1 o2
o1 o2

0 komentar

[+lihat komentar]


o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4