(dok Koran SI)
JAKARTA - Ada inefisiensi yang menyebabkan perekonomian Indonesia tidak tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Selain itu, perekonomian dinilai sensitif terhadap suku bunga, sedangkan suku bunga amat dipengaruhi oleh inflasi.
"Selama ini inflasi rata-rata relatif tinggi jadi BI menurunkan suku bunga sesuai inflasi. Jadi ke depan kita harus bisa mengendalikan inflasi ke level yang lebih rendah," ujar Chief Economist Research Institute Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa, di Jakarta, kemarin.
Tingginya infasi dan suku bunga, menurut dia, mengakibatkan perusahaan-perusahaan mengalami cost capital advantage, di mana bunga yang harus dibayar menjadi lebih tinggi.
"Jadi untuk bersaing di luar negeri kita terpaksa menurunkan cost yang lain, di antaranya menurunkan upah buruh. Jadi upah buruh kita tidak sebaik dibandingkan negara-negara tetangga," jelasnya.
Problem lainnya adalah inefisiensi dari sisi pembelanjaan. "Kita lihat tahun lalu saja tiba-tiba kita surplus, padahal kita menginginkan kelebihan uang anggaran Rp77 triliun," ujar dia.
Artinya, pemerintah tidak bisa membelanjakan kelebihan uang tepat waktu, akibatnya fiskal stimulus tidak terlalu banyak dirasakan oleh sektor riil.
Jika birokrasi tidak diperbaiki, Purbaya mengkhawatirkan APBN tidak dapat dibelanjakan dengan baik dan tepat waktu. Akibatnya dorongan dari sisi fiskal akan menjadi minimum terhadap perekonomian.
"Kalau itu yang terjadi, kebijakan fiskal apapun gak ada gunanya. Program ini harusnya sudah dilihat atau disadari oleh menteri keuangan dan presiden," ungkap dia.(Arief Sinaga /Trijaya/jri)