Logo IMF. Dok IMF
COLOMBO - Kepala bank sentral Srilanka mengungkapkan bahwa negaranya masih bisa hidup tanpa adanya bantuan bailout dari IMF yang telah terganggu karena adanya pemberontakan kepada pemerintah di negara itu.
Seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/7/2009), pemerintah Srilanka telah meminta bantuan pinjaman dana sebesar USD1,9 miliar sejak Maret untuk mencegah defisit neraca pembayaran pertama selama empat tahun. Hal ini dilakukan setelah cadangan mata uang asing Srilanka merosot sekira enam bulan lalu.
"Semuanya berjalan baik setelah perang. Kebutuhan dana yang mendesak dari pinjaman IMF sudah tidak ada lagi," tukas Gubernur Bank Sentral Srilanka Nivard Cabraal.
Menurutnya, negara itu saat ini sudah memiliki cadangan lebih dari USD1,6 miliar. Angka tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan impor mereka selama lebih dari dua bulan mendatang. Dia pun mengatakan, tampaknya cadangannya akan secara bertahap mulai meningkat.
Sementara untuk cadangan devisa asing Srilanka tercatat jatuh lebih dari duapertiga saat bank sentral menjual dolar untuk mempertahankan nilai tukar rupee pada tahun lalu, yang cadangan asingnya meningkat USD1,3 miliar pada akhir April.
Seperti diketahui, pinjaman dari IMF tertunda karena adanya tekanan politik dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara-negara lainnya yang merasa pemerintahan Srilanka tidak berbuat apapun untuk melindungi warga sipil dari tentara Tamil.
Namun demikian, Cabraal mengungkapkan bahwa kekalahan yang dialami tentara Tamil kepada pemerintah itu setidaknya telah meringankan negara kepulauan tersebut dari merosotnya neraca pembayaran. (ade)