Ilustrasi. Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah diingatkan agar tidak mentah-mentah menerima kesepatan Forum Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Terkait kesepakatan mempertahankan perdagangan bebas, misalnya, Indonesia yang dipandang belum siap mengimplementasi secara penuh kebijakan antiproteksionisme tersebut.
Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih mengatakan, liberalisasi ekonomi tanpa penguatan daya saing produk domestik malah akan merugikan Indonesia.
"Akan menimbulkan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi lantaran lapangan kerja semakin berkurang," ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Minggu (15/11/2009).
Perdagangan bebas, dia menerangkan, sudah jelas membuat produk impor di dalam negeri membanjir. Seperti sekarang produk-produk tekstil dan alas kaki dari China, misalnya, menyerbu pasar domestik.
Menurut Sri, saat ini belum banyak industri nasional yang mampu bersaing dengan produk impor. Kebanyakan produk nasional, kata dia, masih kalah bersaing, khususnya dengan China.
Jika dibiarkan, hasil produksi industri-industri lokal akan merosot tajam dan perlahan ambruk. Sehingga, kata dia, sebaiknya pemerintah lebih berkonsentrasi membenahi daya saing produk nasional ketimbang mengikuti saran-saran organisasi internasional dalam mempertahankan tren penguatan pemulihan ekonomi global.
Apalagi, Sri mengingatkan, liberalisasi versi APEC ini membawa China di dalamnya. "Sehingga kalau tidak hati-hati malah akan membuat industri kita semakin terpuruk," imbuhnya.
Pemerintah tahun depan berencana menggenjot pertumbuhan industri manufaktur melalui upaya revitalisasi. Terkait hal ini, pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar Rp350 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010.
Program revitalisasi ini, menurut Sri, harus dapat meningkatkan daya saing produk domestik. "Tetapi kadang kebijakan belum tentu jalan implementasinya," imbuhnya.
Para pemimpin negara APEC sepakat untuk membentuk jalur yang saling terhubung antarnegara guna mempertahankan perdagangan bebas dan dalam rangka menolak segala bentuk proteksi. (Meutia Rahmi /Koran SI/ade)