Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution yang membantah habis-habisan laporan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang bailout Bank Century dinilai tidak konkret.
"Penjelasan itu tidak konkret," kata ekonom Hendri Saparini saat dihubungi okezone, di Jakarta, Selasa (24/11/2009).
Dijelaskannya, alasan bailout yang diutarakan oleh Sri Mulyani tersebut tidak dapat dibenarkan. Yakni, dari lima faktor yang dijadikan dasar melakukan bailout, hanya satu saja yang dipenuhinya.
"Alasan bailout terjadi karena itu krisis global tertolak, karena masalah sistemis tertolak, juga karena bailout itu adalah satu-satunya cara menyelamatkan Century juga tertolak," jelasnya.
Dia melanjutkan, Century merupakan bank bermasalah sejak pertama kali dilahirkan pada 2004, di mana masalah likuiditas yang terjadi di bank tersebut bukan karena krisis global, tetapi karena masalah pencurian dana yang terjadi. "Ditambah lagi share Century itu kecil, tidak ada pengaruhnya," ucapnya.
Dan, menurutnya yang paling bertanggung jawab atas masalah ini adalah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Komite Koordinasi (KK). Sehingga walaupun data yang digunakan oleh BI tidak tepat, seharusnya KSSK melakukan evaluasi atas hal tersebut.
Untuk itu, dia menantang Menkeu Cs agar dapat membuktikan perkataannya tersebut dengan data yang dimilikinya, untuk diadu argumentasinya dengan analis dari luar. "Kalau masalah asumsi kan gampang," tukasnya. (ade)