Papan Perdagangan IHSG. Foto: Koran SI
JAKARTA - Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing memprediksi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2010 hanya bisa menembus level 2.800.
Asumsi ini, tegas dia, dapat terealisasi jika harga minyak berada di di bawah level USD100 per barel. "Mungkin bergerak perlahan ke level 2.800-an," katanya, di Jakarta, Sabtu (28/11/2009).
Namun, jika harga minyak mentah dunia menembus level di atas USD100 per barel, maka akan berdampak buruk pada sektor riil, khususnya manufaktur. Kondisi ini memberikan sentimen negatif ke pasar modal. Bahkan dia memprediksi, IHSG hanya akan bertahan di level 2.000.
"Persoalannya kita tidak bisa memprediksi pergerakan harga minyak," kata pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) ini.
Pardomuan mengungkapkan, sekira 40 persen market cap Indonesia didominasi saham pertambangan dan energi yang mendukung penguatan harga saham di lantai bursa.
Meski saham sektor pertambangan masih di posisi kedua setelah saham sektor aneka industri, namun dia menilai ke depan sektor pertambangan tetap menjadi indikator penguatan IHSG.
Head of Equity PT Fortis Investment Alvin Pattisahusiwa pernah mengatakan, price earning ratio (PER) bursa Indonesia di tahun depan menempati posisi termurah keempat setelah Thailand, Korea, dan Filipina. Pada 2010, PER bursa Thailand diprediksi mencapai 11 kali dan Indonesia 13,5 kali. Sementara 2011, PER Indonesia diperkirakan kembali turun ke posisi 10 kali.
Target PER tersebut, akan berubah jika ada pemeringkatan kembali dari lembaga pemeringkat terhadap prospek Indonesia. Faktor lainnya adalah suku bunga dan imbal hasil (yield) obligasi yang turun, pertumbuhan laba emiten yang tinggi dan stabil, serta kelanjutan reformasi ekonomi dalam negeri.
IHSG pun masih berpeluang mencetak rekor baru di level 3.000 pada 2010 jika didukung pertumbuhan laba bersih emiten sebesar 20 persen. Kemungkinan membaiknya kinerja emiten juga didorong peluang merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan untuk meningkatkan nilainya.
Selain itu, adanya penurunan pajak pendapatan perusahaan dari 25 persen menjadi 20 persen serta turunnya pajak pribadi yang akan meningkatkan daya beli masyarakat. "Ini akan membuat investor asing masuk," kata dia. (Whisnu Bagus /Koran SI/ade)