Foto: Corbis
JAKARTA - Investasi untuk solusi energi efisiensi di Indonesia menawarkan potensi pasar senilai USD4 miliar bagi bank-bank komersial dan sektor industri.
"Sektor energi di Indonesia adalah peluang baru investasi besar yang belum dikembangkan dan menunggu partisipasi dari kalangan perbankan domestik atau internasional serta sektor industri," kata Direktur Divisi Air dan Energi Asian Development Bank (ADB) Antony Jude, dalam situs EDSM yang dikutip okezone, di Jakarta, Minggu (29/11/2009).
Antony memaparkan, angka USD4 miliar berasal dari perkiraan ADB akan potensi besarnya pasar untuk melakukan retrofit dan perbaikan lain guna menghemat energi pada bangunan-bangunan komersial dan fasilitas industri. Jenis-jenis proyek penghematan energi ini bisa dari modifikasi sistem kelistrikan hingga perbaikan sistem pendingin udara, pencahayaan dan waste heat recovery.
Sebagai contoh, misalnya sebuah bank komersial ikut mendanai proyek senilai USD420 ribu untuk memperbaiki sistem pendingin udara (AC), pompa, dan sistem pencahayaan bangunan perkantoran besar, perbaikan ini akan menghasilkan penghematan listrik yang besar dengan nilai sekitar USD100 ribu per tahun, atau berarti modal untuk investasi awal bagi penghematan ini bisa kembali dalam waktu 4 tahun.
Konferensi Energi Efisiensi dilaksanakan bersama pemerintah Indonesia ini dirancang untuk menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan antara bank-bank komersial, perusahaan pemasok peralatan dan pelayanan energi yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan lingkungan yang berkelanjutan.
Konferensi yang diselenggarakan bersama oleh ADB, Masyarakat Kelistrikan Indonesia (MKI), dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia ini mengumpulkan sekitar 200 peserta dari bank-bank komersial, pemerintah, dan industri besar. (css)