JAKARTA - Kalangan pemerintah merespons positif rencana Bank Indonesia (BI) yang akan menerbitkan kembali Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor enam dan sembilan bulan pada April.
Perbankan akan menggunakannya sebagai alternatif simpananan kelebihan likuiditas. Namun, bukan sekadar untuk mencari keuntungan dan tetap memilih kredit.
"Saya menyambut baik penerbitan SBI yang medium term tersebut. Makin beragamnya instrumen baru menjadikan penempatan dana semakin banyak. Saat ini bank sedang hadapi ekses likuiditas," ujar Direktur Bank Mandiri Pahala N Mansyuri di Jakarta, Minggu (10/2/2008).
Menurut Pahala, rencana tersebut menjadi salah satu kebijakan yang akan dikeluarkan oleh BI tahun ini. Hal ini terkait dengan penerapan benchmark yang menggunakan suku bunga overnight. Namun, secara umum rencana penerbitan SBI enam dan sembilan bulan memudahkan bank menempatkan kelebihan dana yang dimiliki.
Selama ini, lanjut Pahala, bank hanya mengandalkan penempatan sementara di SBI satu dan tiga bulan. Dana yang dihimpun perbankan umumnya berjangka pendek, dan jika ada kelebihan likuiditas yang lebih panjang, maka bisa ditempatkan dalam SBI enam maupun sembilan bulan tersebut.
"Umumnya, penghimpunan dana jangka pendek satu dan tiga bulan berasal dari deposito. Sedangkan yang akan disimpan dalam SBI enam dan sembilan bulan tidak terlalu besar," jelasnya.
Pahala menuturkan, penempatan dana di SBI bukan menjadi fokus perbankan. Buktinya, selama tahun 2007 pertumbuhan kredit mencapai 25% atau melampaui target semula. Perbankan tetap mengucurkan kredit ketimbang menyimpan dana di SBI.
Sedangkan jumlah SBI, Fasilitas Simpanan BI (Fasbi) maupun Giro Wajib Minimum (GWM) Bank Mandiri sekitar Rp33 triliun. Jumlah ini sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
"Bank tetap berpikir kredit dan tidak perlu dikhawatirkan lebih senang menyimpan dana di SBI. Penyimpanan dana di SBI hanya sementara," tandasnya. (Tomi Sujatmiko/Sindo/rhs)