Akhir Semester I-2008

Sekuritisasi Aset BTN Direalisasikan

Senin, 18 Februari 2008 09:37 wib | Tomi Sujatmiko - Sindo

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (BTN) berencana merealisasikan sekuritisasi aset kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp500 miliar pada akhir semester pertama pada 2008.

"Insya Allah akan kami realisasikan pada akhir semester I. Kami sudah menuntaskan legal meeting dan lembaga pemeringkat juga sudah mencek semua," ujar Dirut BTN Iqbal Latanro, di Jakarta, baru-baru ini.

Menurutnya, Ditinjau dari kesiapan BTN, terdapat tak kurang dari Rp600 miliar KPR kategori lancar yang dapat disekuritisasi. Namun untuk tahun ini, perseroan hanya menargetkan Rp500 miliar.

"Kalau ini lancar, tahun depan akan dilanjutkan lagi," ujar Iqbal.

Saat ini, ujarnya, BTN bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) tengah menyelesaikan pembahasan yang berkaitan dengan regulasi perpajakan dan pengalihan hak agunan. Realisasi kerjasama BTN dan SMF ini seharusnya dilaksanakan pada November lalu, namun terundur karena masalah perpajakan. Sesuai regulasi yang kini berlaku, SMF sebagai pihak yang akan mensekuritisasi KPR BTN dikenai pajak atas pengembalian pinjaman.

"Sesuai kesepakatan dengan SMF, pajak akan dilakukan SMF," tandas Iqbal.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa sekuritisasi aset merupakan satu dari tiga langkah strategis BTN tahun ini dalam rangka ekspansi kredit dan memperbaiki arus kas.

Tahun ini, bank pelat merah tersebut juga menargetkan pertumbuhan kredit hingga 26, atau setara Rp10,04 triliun kredit baru.

Dua langkah lain yang akan ditempuh BTN, tutur Iqbal, adalah penerbitan obligasi BTN ke-13 sebesar Rp1 triliun pada pertengahan tahun dan privatisasi pada akhir triwulan III-2008.

Terkait privatisasi, dia mengemukakan bahwa saat ini pihaknya bersama tim restrukturisasi BUMN perbankan dari Kementerian Negara BUMN masih mengkaji opsi privatisasi yang akan dijalankan. Penawaran saham perdana kepada publik (IPO) sebesar 30 persen atau akuisisi BTN oleh bank BUMN lain.

Sembari menunggu keputusan yang final, pihaknya tetap menjalankan persiapan IPO sebagaimana telah diputuskan dalam RUPS BTN 18 Januari 2008.

"Kita tunggulah.Tapi paling baik tentu kepemilikan oleh publik," paparnya.

Direktur BTN Saut Pardede sekuritisasi aset dan IPO merupakan aksi korporasi perseroan untuk menambah modal dan merubah komposisi modal. Ke depan, perseroan akan menggenjot pertumbuhan dana murah (giro dan simpanan) yang akan mengubah komposisi pengumpulan dana pihak ketiga.

Untuk mencapai target tersebut, lanjutnya perseroan akan menggelar berbagai program undian menarik bagi nasabah.

"Per Desember 2007, jumlah DPK mencapai Rp24,2 triliun. Komposisinya 57 persen dana mahal di deposito, sisanya dana murah (tabungan dan giro) yang mencapai Rp10 triliun," tegasnya.

Menurut Saut, potensi pertumbuhan dana murah sangat dimungkinkan. Pada akhir tahun 2007, tabungan perseroan meningkat hampir 21 persen dari Rp6 triliun menjadi Rp7,5 triliun. Sedangkan giro menjadi Rp2,5 triliun sehingga komposisi dana murah berbanding dana mahal di masa depan menjadi 57 persen dan 43 persen. (Tomi Sujatmiko/Sindo/rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA ยป